Jumat, 12 Agustus 2016

Pacarku Seorang MAFIA !!



Hai, namaku Naeya. Aku seorang mahasiswi di Universitas Brawijaya, Malang. Kehidupanku bisa dibilang menyenangkan. Apa lagi sejak 3 bulan yang lalu aku mendapatkan pacar yang sangat aku idamkan. Namanya Roy. Dia seniorku. Wajahnya rupawan dan postur tubuhnya ideal. Dia juga mahasiswa kharismatik.
            “Naeya, tugas dari Mr. Li sudah kamu kumpulkan?” tanya temanku, Deas.
            “Sudah.” jawabku singkat.
            “Eh... tuh kak Roy nungguin kamu! Beruntung banget ya kamu jadi pacarnya! Kalau kamu sudah bosan sama dia, kasihkan ke aku aja. Aku mau nerima dengan sukarela kok. Hehehe...”
            “Enak saja!” jawabku jengkel. Sudah berapa banyak pengorbananku untuk mendapatkan kak Roy. Mana mungkin aku melepaskannya begitu saja. Dasar Deas, seenaknya sendiri kalau ngomong. “Yaudah, aku mau pulang duluan. Bye.” lanjutku.
***
            Di luar kampus aku melihat kak Roy yang sedang bersandar di mobil sport birunya yang keren sambil memainkan kacamata hitamnya. Kak Roy terlihat seperti pangeran. Bener kata Deas, aku memang beruntung. “Lama nunggu ya kak?” tanyaku.
            “Enggak kok. Baru satu jam.” jawab kak Roy sambil tersenyum manis padaku. Aduh... keren banget. Senyumnya dalam sekejap sudah bikin aku mabuk kepayang.
            “Ah kakak...” kataku yang tersipu malu.
            “Yasudah, ayo naik tuan putri.” katanya sambil membukakan pintu mobilnya untukku.
            “Terimakasih, pangeran.”
            Kak Roy selalu memanggilku tuan putri. Aku bingung kenapa dia memanggilku begitu. Tapi apa pun alasannya, panggilan itu berhasil membuatku bahagia. Bukan hanya panggilan saja, kak Roy juga memperlakukanku seperti tuan putri. Awalnya aku risih dengan sikap kak Roy. Tapi lama kelamaan aku merasa nyaman dan karena sikapnya itu juga aku jadi selalu memikirkannya. Dia berhasil membuatku menjadi ‘Tergila-gila’ padanya.
            “Kita mau kemana?” tanyaku akhirnya setelah kami saling diam selama 5 menit.
            “Pulang.” Jawabnya ringan.
            “Langsung pulang?”
            “Memang tuan putri mau kemana dulu?”
            “Ah tidak... kita langsung pulang saja.”
            Sebenarnya aku ingin sekali berjalan-jalan berdua dengan kak Roy sepulang sekolah. Tapi, kak Roy selalu mengantarku pulang tepat waktu. Begitu juga saat berangkat, dia selalu menjemputku tepat waktu. Kalau begini terus, ini sih  bukan seperti sepasang kekasih. Tapi seperti tuan putri dengan supirnya. Aku juga tidak berani meminta sesuatu pada kak Roy. Takutnya, nanti dia merasa kalau aku banyak maunya, lalu dia pergi tinggalin aku. Oh No!!
            “Terimakasih.” Ucapku setelah turun dari mobilnya.
            “Iya. Nanti aku telepon.”
            “Benarkah? Aku tunggu ya.”
            “Iya. Bye.”
            Aku hanya bisa tersenyum dan melambaikan tanganku. Entah mengapa aku tidak bisa mengucapkan kata ‘Bye’ pada kak Roy. Yah... seperti biasanya dia meneleponku, tapi hanya sebentar saja. Dia seperti diburu waktu. Aku selalu bertanya, sebenarnya dia itu sayang sama aku atau hanya mempermainkan aku saja sih? Masa telepon pacar hanya 5 atau 10 menit saja. Menyebalkan!
            “Naeya, kamu belum tidur, sayang?” tanya mama yang habis mengunci pintu depan.
            “Ini mau ke kamar ma.” jawabku, lalu aku naik ke anak tangga menuju kamarku. Sesampainya aku di kamar, handphoneku berbunyi, ada sms baru masuk.

GOOD NIHGT MY PRINCESS.

Kak Roy. Hehehe... walau dia hanya meneleponku sebentar tapi sebenarnya dia sangat perhatian padaku. Dia adalah pacar idamanku.
***
“Good Morning My Princess.” sapa kak Roy yang sedang mengobrol dengan mama.
“Good Morning.” jawabku senang.
“Naeya, kamu sudah siap?” tanya mama.
“Sudah. Naeya berangkat ke kampus dulu ya, ma.” jawabku.
“Kami pergi dulu, tante.” kata kak Roy pamit ke mama.
“Iya. Hati-hati di jalan.” jawab mama sambil melambaikan tangan.
‘Setiap pagi kak Roy selalu menjemputku tepat waktu. Seperti bodyguard aja.’ gerutuku dalam hati.
“Kamu lagi ngomongin aku ya tuan putri?”
Aduh... kok tepat banget sih pertanyaannya. Aku harus jawab apa ya?
“Oh, maaf kalau aku salah ngomong. Tuan putri sampai diam lama gitu.”
“Eh, eng... enggak kok.” Hemm... “Kak Roy.”
“Iya tuan putri?”
“Kenapa kakak kalau nelpon hanya sebentar saja?” aduh... aku kok ngomong gini ya? Tuh, kak Roy langsung noleh lagi. Nyesel deh.
“Maaf, tuan putri. Aku hanya takut mengganggu istirahat tuan putri.”
“Ti... tidak kok. Aku malah seneng kalau kakak nelponnya lama.”
“Benarkah? Lain kali aku usahakan deh.”
“Beneran?”
“Iya. Apa sih yang enggak untuk tuan putri?”
Oh My God!! Kak Roy bilang gitu? Mimpi apa kau semalem? Pangeran idamanku bilang seolah-olah akulah yang terpenting dalam hidupnya. Oh tuhan, thank you.
“Tuan putri.”
“Ya.”
“Untuk 3 hari yang akan datang. Maaf aku tidak bisa berada disisimu.”
“Kenapa?”
“Aku ada urusan keluar negeri.”
“Urusan apa?”
“Mamaku sekarang di Jepang dan minta aku ke sana.”
“Oh... ok. Enggak apa kok.”
“Terimakasih, tuan putri.”
Yah... 3 hari kedepan aku enggak bisa ketemu kak Roy lagi dong? Pasti aku bakal kesepian deh. Tapi aku kan masih bisa telpon-telponan. Yasudahlah.
***
3 hari berlalu.
‘Maaf, nomer yang anda tuju sedang sibuk.’
“Sibuk apa sih kak Roy ini?”
“Sabar dong. Palingan juga handphonenya enggak dibawa atau apalah.” kata Deas mencoba untuk menenangkanku.
“Tapi sejak 3 hari yang lalu handphonenya selalu sibuk.”
“Udahlah, kamu tenang saja. Mungkin dia banyak kerjaan di Jepang.”
***
‘Maaf, nomer yang anda tuju sedang sibuk.’.
‘Maaf, nomer yang anda tuju sedang sibuk.’.
‘Maaf, nomer yang anda tuju sedang sibuk.’.
            Aduh.. dari tadi sibuk melulu. Kamana sih kak Roy ini? Bikin aku khawatir saja.
            “Hallo?”
            “Halo, kak Roy? Kakak kemana saja sih? Dari...”
            “Ini bukan Roy.”
            “Eh... maaf. Ini siapa ya?”
            “Ini tante, mamanya Roy.”
            “Oh, tante. Ini Naeya, te.”
            “Oh, Naeya. Roy sudah pergi dari 3 hari yang lalu, enggak tau kemana.”
            “Oh. Yasudah kalau begitu. Oh ya tante kapan pulang dari Jepang?”
            “Jepang?”
            “Iya. Tante dan kak Roy sekarang ada di Jepangkan?”
            “Hahaha... selama 1 minggu ini tante ada di rumah.”
           Di rumah? Tapi, kak Roy bilang selama 3 hari ini dia nyusul mamanya ke Jepang. Lalu kak Roy kemana? “Oh. Iya tante, maaf sepertinya Naeya salah.”
            “Oh, ya tidak apa.”
            “Terimakasih tante.”
            “Iya. Salam buat mama kamu ya.”
            “Iya.”
            Sebenarnya, kemana kak Roy? Kenapa dia berbohong padaku? Aduh... kenapa juga aku nangis? Kak Roy. Kakak kemana?
***
            1 minggu kemudian.
            Selama satu minggu setelah kak Roy membohongiku. Dia tidak pernah mengabariku lagi. saat aku tanya keberadaan kak Roy ke tante. Tante malah tidak tahu dan empat hari yang lalu tante berangkat ke Australia. Hidupku menjadi hampa. Sekarang tidak ada lagi yang mengisi hari-hariku.
            “Coklat? Sejak kapan ada coklat di sampingku?” aku melihat ke sekeliling, tapi tidak ada siapa pun. Taman ini sepi. Padahal ini taman di dalam kampus. Sebenarnya ini jam pelajaran. Tapi aku yang kabur, bolos. Eh... ada suratnya.

            Kenapa sendirian? Jangan murung begitu, kamu lebih cantik kalau tersenyum. Tuan putri.’

            Tuan putri? Hanya kak Roy yang memanggilku tuan putri. Tapi dimana dia? “Kak Roy? Kak! Kak Roy!”. Kenapa tidak ada yang menjawab? Sebenarnya dimana kak Roy berada? “KAK ROY!!” berapa kali lagi aku harus memanggil namanya? Dan harus sekeras apa lagi aku meneriakkan namanya? Ini sudah kedua kalinya kak Roy membuatku menangis. Kak Roy, kamu dimana? Aku merindukanmu. Tiba-tiba handphoneku berbunyi.
            “Halo?”
“Kekasihmu berada ditangan kami. Kalau kamu tidak ingin dia kami siksa. Cepat datang kemari! Dan jangan membawa polisi. Atau dia akan mati.”
            “Apa yang kau katakan? Jangan sakiti kak Roy!”
            “Cepat datang sebelum matahari tenggelam.”
            “Dimana kamu?”
            “Kami berada di gudang kampusmu.”
            “Apa? Halo? Halo?”
            Tidak ada waktu untuk terus menangis. Aku harus segera menyelamatkan kak Roy. Di gudang kampus ya? Ok, aku tau tempatnya.
            “Kak Roy!” loh... kok tidak ada siapa pun? Eh... apa-apaan ini? Kenapa mataku di tutup? Mau dibawa kemana aku? Loh... suara mobil? Sebenarnya aku mau dibawa kemana? Kenapa sampai harus naik mobil? Sudah cukup lama... kenapa mobil ini belum berhenti juga? Apa-apaan ini?
***
Ah... akhirnya penutup mataku dilepas. Dimana ini? Kenapa banyak orang yang menyeramkan? Mereka semua membawa pistol! Tempat macam apa ini? “Siapa kalian? Apa mau kalian?”.
            “Hemm... ternyata ini kekasih anak tak tahu diri itu! Cantik juga ya. Hehehe...”
            “Siapa kamu?”
            “Aku adalah ketua geng ini. Dan kamu adalah kekasih ketua geng musuhku.”
            Ketua geng? Apa maksudnya? Kak Roy ketua geng? Geng apa?
            “Geng? Geng apa?”
            “Kau kekasihnya. Tapi kau tak tahu dia siapa? Whahaha...”
            “Jangan bercanda! Cepat katakan!”
            “Tenanglah. Dia adalah KETUA GENG MAFIA! Whahaha...”
            Apa? Ketua geng mafia? Tidak mungkin!
            “Jangan bercanda. Kak Roy tidak mungkin seorang mafia!”
            “Hahaha... dasar perempuan bodoh. Dengan mudahnya kau dapat ditipu.”
            Iya. Aku memang perempuan bodoh. Aku terlalu mudah ditipu.
            “NAEYA!”
            “Kak Roy?”
            “Oh... ternyata kau sudah datang. Lihatlah, kekasihmu sudah ada ditanganku. Dan sebentar lagi dia akan menjadi milikku!”
            “Apa yang kau katakan? Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu itu!”
            “Kak Roy?”
            “Serang mereka!”
            Kak Roy? Penampilannya berbeda. Nada bicaranya juga berbeda. Tingkat emosinya juga berbeda. Apakah dia benar-benar kak Roy yang aku kenal? Satu persatu berhasil ditumbangkan oleh kak Roy dan teman-temannya. Seperti di film-film saja. Mengagumkan.
            “Naeya, kamu tidak apa?” tanyanya khawatir.
            Inikah kak Roy yang ku punya? “Kak Roy.” Untuk ketiga kalinya aku menangis. Namun, kali ini bukanlah tangisan kekecewaan atau kesepian. “Kenapa kakak tidak cerita kepadaku tentang ini?”
            “Aku tidak mau melibatkan kamu. Aku tidak ingin melihatmu terluka. Tapi, hal seperti ini akhirnya terjadi juga. Untung aku berhasil datang tepat waktu. Kamu itu memang mudah ditipu ya? Merepotkan saja.” kak Roy berbicara panjang lebar. Dia seolah menyalahkanku, tapi juga tidak ingin melihatku terluka. Dia benar-benar berbeda dari kak Roy yang selama ini aku kenal.
            “Hahaha...”
            “Kenapa kamu tertawa?”
            “Apa kakak sadar satu hal?”
            “Apa? Apa kamu terluka?” tanyanya panik.
            “Tidak.”
            “Lalu apa?”
            “Ini pertama kalinya kakak memanggilku Naeya.”
            “Dasar kau ini!” omelnya dengan muka memerah.
            Hahaha... walau pun dia berbeda dari kak Roy yang selama ini aku kenal. Tapi, satu hal yang aku tahu. Dia adalah kak Roy yang aku cinta.

TAMAT

Minggu, 13 April 2014

Terlupakan...


Oleh Romaniar Rudiawaty Purnawan
            Malam ini aku sedang bingung. Aku memiliki tugas dari guruku untuk membuat cerpen. Dan aku berencana untuk ku selesaikan malam ini juga dan akan aku serahkan besok pagi. Tujuannya sih ya hanya untuk mendapatkan nilai lebih saja. Karna aku sering membuat cerpen, jadi aku tidak terlalu mempermasalahkan apa bila aku buat hanya satu malam saja. Namun, yang jadi kendalanya, aku kalau membuat cerpen itu selalu menggunakan pengalaman orang lain atau khayalanku saja. Sedangkan tugasku kini, aku diharuskan membuat cerpen dari pengalaman pribadiku sendiri.
            Ok fine... dari pada bingung mau nulis apa jadi aku ngacak-acak laciku untuk mencari inspirasi sebagai bahan tulisku. Lagi seriusnya ngacak-acak tiba-tiba mama masuk ke kamar sambil membawa tumpukkan pakaian.
            “Lagi ngapain?” tanya mama. “Oh, lagi nata laci? Baguslah...” lanjutnya.
            Aku hanya diam sambil tersenyum. Soalnya aku enggak berniat untuk menata laci, mangkannya aku enggak jawab. Hehehe...
            “Bisa tolong lipatkan baju-baju ini? Lalu nanti taruh di lemari.” pinta mama sambil menaruh tumpukan pakaian diatas kasur.
            “Iya ma.” jawabku singkat sambil memulai melipat pakaian.
            Waktuku tersita untuk melipat pakaian dan menaruh pakaian-pakaian itu kedalam lemari. Setelah semua beres aku melanjutkan mengacak-acak laciku. Aku milihat ada tumpukan rapor, ijasah, sertifikat, piagam, dan buku kenanganku dulu.
Kalau dilihat-lihat, aku punya banyak sekali sertifikat dan piagam. Tapi aku kok merasa belum puas ya? Aku merasa itu semua belum cukup. Aku masih ingin menambah itu semua. Dan aku ingin lebih baik dari sekarang. Insya allah, semua bisa kucapai dengan usahaku yang sungguh-sungguh. Aku jadi teringat saat dulu aku berusaha sendiri ataupun dengan teman-temanku untuk mendapatkan piagam-piagamku itu. Tidak jarang aku mengorbankan waktu bermainku untuk berlatih. Melupakan rasa laparku demi menghafalkan suatau gerakan karate, sebuah naskah drama, ataupun yang lain. Dan mengurangi waktu tidurku.
            Yang ada di pikiranku saat itu hanya satu. “Aku harus bisa! Menag atau kalah itu tak jadi masalah. Yang terpenting adalah aku telah berani berusaha dan mencoba dengan seluruh kemampuanku. Tak ada kata lelah. Tak ada kata istirahat. Dan tak ada kata bermanja-manja.” Ungkapku selalu sebelum akan bertanding karate, mengikuti lomba teater, lomba pramuka, dan lomba-lomba yang lain. Bagiku ‘Tak ada yang tak mungkin. Selama aku mau berusaha dengan seluruh kemampuan yang aku miliki’.
            Papaku adalah seorang pelatih karate. Bisa dibilang selain menjadi orang tua, papa juga menjadi guru karateku yang biasa dipanggil dengan shensei. Papa pernah berkata “Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda”. Aku selalu mengingat kalimat itu. Dan aku percaya, bahwa apabila aku kalah sekarang, aku akan bisa menang keesokan harinya. semua akan mungkin, apa bila aku mau instropeksi diri dan merubah kelemahanku menjadi kelebihanku.
            Setelah aku mengacak-acak laci, aku menemukan sebuah lembaran. Lembaran itu berisikan sebuah puisi. Puisi yang menyayat hatiku. Entah sejak kapan puisi itu berada di laciku. Puisi itu berjudul  “Disaat Daku Tua...”. aku membaca puisi itu dengan perlahan. huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat demi kalimat.



Disaat Daku Tua...

Disaat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu.
Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.

Disaat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku,
Disaat daku tidak lagi mengingat cara mengikat tali sepatu,
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu,
Membimbingmu untuk melakukannya.

Disaat daku dengan pikunnya mengulang
terus menerus ucapan yang membosankanmu,
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku,
Dimasa kecilmu. Daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah daku ceritakan ribuan kali, hingga dirimu terbuai dalam mimpi.

Disaat daku membutuhkanmu untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkanku. Ingatlah dimasa kecilmu,
Bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?

Disaat daku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
Janganlah menertawaiku.
Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab
setiap “mengapa” yang engkau ajukan disaat itu.

Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku.
Bagaikan dimasa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.

Disaat daku melupakan topik pembicaraan kita,
Barilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya.
Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku. Asalkan engkau berada disisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.

Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih.
Maklumilah diriku, dukunglah daku,
Bagaikandaku terhadapmu disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.

Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini.
Kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupku.
Berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu,
Daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur.
Di dalam senyumku ini, tertanam kasih yang tak terhingga padamu.

            Air mataku menetes sedikit demi sedikit membasahi pipi. Aku teringat dengan mama dan papa yang dengan susah payah membesarkanku, mendidikku, merawatku, menjagaku hingga aku menjadi seperti sekarang. Aku seolah telah melupakan semua jasa mereka padaku. Rasa terimakasih yang harusnya mereka dapatkan dariku malah aku lupakan. Tak ada kata terimakasih yang keluar dari mulutku. Apa lagi kata maaf.

Aku tinggal bersama mereka, sejakku masih kecil hingga sekarang ku beranjak dewasa.  Ya Allah... durhakanya diriku yang telah melupakan jasa kedua orang tuaku. Tak ada kata terimakasih yang keluar dari mulutku untuk kebaikan dan pengorbanan mama, yang mati-matian mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan aku. Tak ada kata maaf yang terucap dari bibirku untuk papa yang dulu sempat kuragukan kasih sayangnya.
Papa selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dulu aku selalu marah kalau papa tak punya waktu untukku. Rasa marahku, aku lampiaskan pada harta. Uang saku, aku habiskan untuk membeli barang-barang mahal dan tak berguna. Aku tak peduli kalau papa marah, karna bagiku amarah papa yang tak sayang padaku tak berarti. Ku bersikap kekanak-kanakan, apa yang aku mau harus papa turuti. Bila tidak, aku akan menangis seharian hanya untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya juga tak berguna untukku.
Kini aku telah beranjak dewasa dan aku mulai sadar bahwa kasih sayang papa sangatlah besar buatku. Apapun yang papa lakukan itu semua untuk kebahagiaanku. Bahkan papa seakan tak memperdulikan rasa lelahnya hanya untuk membuatku senang.

Mama... papa... maafkan aku. Maafkan keegoisanku. Maafkan aku yang tak tahu besarnya rasa kasih sayang kalian. Maafkan aku yang belum bisa membalas pengorbanan yang kalian berikan padaku. Namun aku akan berusaha. Berusaha untuk bisa membahagiakan kalian, kini dan esok dihari tua kalian. Aku menyayangi kalian. Dulu, sekarang, besok, dan selamanya. Aku tak akan pernah melupakan kalian. Kalian adalah cahaya pelita dalam hidupku.
Tiba-tiba nenek masuk ke kamarku. Nenek heran melihat mataku yang memerah. Akhirnya nenek bertanya “Kamu ngapain?”
“Nangis, nek.” jawabku sedih.
“Nangis kenapa?” tanya nenek khawatir.
“Karna cerpen. Niar lagi bikin cerpen nek. Biasalah tugas sekolah.” jawabku sambil menyeka air mata.
Nenek hanya tertawa melihatku. Mungkin dibenak nenek aku masih seperti anak kecil yang mudah menangis karna hal sepeleh. Tapi sebenernya.... ya bener juga sih. Aku memang dari dulu hingga sekarang mudah nangis karna hal sepeleh. Hahaha.... eits...!! tapi kalau sekarang aku menangis itu bukannya karna aku cengeng. Tapi karna aku adalah seorang perempuan sejati, yang memiliki hati yang lembut. Jadi aku mudah simpati pada sesuatu dan apapun yang menyedihkan. Maklumlah cewek... hehehe...

Minggu, 28 Juli 2013

TERSENYUM DALAM TANGISAN






          Di SMP Negeri 1 Krian ada sebuah kisah cinta yang hanya di ketahui seorang siswi itu sendiri. Siswi itu adalah aku. Sudah cukup lama aku menyimpan kisah cinta ini. Sekarang aku ingin menceritakan apa yang aku tau tentang cinta.
          Kisah ini dimulai saat hari pertama masuk sekolah. Saat itu aku masih kelas 7 dan hari itu adalah hari pertama aku masuk SMP Negeri  1 Krian. Sekolahku tidak sebesar dan seluas yang aku kira. Namun di dalam sekolah itu aku memiliki kisah cinta yang sangat mendalam.

***

Flasback Part 1


          “Perkenalkan nama saya Yunia Rudiawan. Saya berasal dari sekolah yang mungkin kalian sudah kenal, yakni SD Negeri 3 Krian. Cita-cita saya ingin menjadi pengusaha sukses dan terkenal.” kataku yang sedang memperkenalkan diri di depan teman-teman baruku di kelas dan sekolah baruku.
          Tidak terasa sekarang aku sudah kelas 7. Padahal aku masih ingat saat aku bermain-main dengan bebas bersama teman-temanku di SD Negeri 3 Krian. Tetapi sekarang aku sudah harus lebih dewasa. Aku tidak boleh terlalu banyak bermain seperti saat aku di SD dulu.
          “Perkenalkan namaku Kresa Pangeran. Aku berasal dari SD Negeri 4 Krian. Cita-citaku ingin menjadi dokter.” katanya dengan tegas dan ramah. Walaupun dia sama sepertiku, yakni anak baru kelas 7. Namun, cara dia berbicara tidak seperti teman-teman baruku yang lain. Dia sangat ramah dan bersahabat. Cara bicaranya sopan dan tegas dan juga sesekali dia tersenyum sambil memandang kami semua (teman-teman satu kelas).
          Dag... Dig... Dug...’
          Itulah yang aku rasakan setiap bertemu denganya atau berpapasan dengannya dan saat aku mengobrol dengannya, rasanya nyaman dan menyenangkan. Seakan aku ingin selalu berada di sisinya dan tak ingin berpisah dengannya.

***

Flasback Part 2


          Sekarang aku menjadi siswi kelas 8. Seharusnya aku senang. Karena aku bisa naik kelas. Namun, saat ini aku merasa kecewa dan sedih. Aku kecewa karena aku tidak bisa satu kelas lagi dengan dia (Kresa). Dan aku sangat sedih. Karena aku tidak bisa bersama dengannya seperti dulu saat aku di kelas 7.
          Dulu tidak setiap hari aku bisa mengobrol dengan dia. Tapi aku bisa setiap hari melihatnya. Itu lebih dari cukup bagiku untuk saat itu. Saat aku di kelas 7.
          Namun ternyata dulu dengan sekarang itu berbeda. Sekarang dia satu kelas dengan salah satu teman baikku. Namanya Nafah Zahrah. Dia pernah curhat padaku. Dia berkata bahwa dia menyukain Kresa. Saat mendengar itu aku hanya bisa diam. Aku tersenyum untuknya, namun hatiku menangis. Tidak ada yang bisa aku perbuat. Aku memang menyukai Kresa. Tapi, aku tak bisa menyakiti hati teman baikku. Nafah tidak seperti diriku yang hanya memendam perasaan ini di dalam hati saja. Dengan halus Nafah mendekati Kresa. Dan dia pun mulai memancing Kresa agar menyukainya. Namun ternyata gagal. Kresa lebih menyukai perempuan lain, yaitu Intan. Intan tidak satu kelas dengan Kresa. Namun mereka dapat dekat karena mereka berdua masuk kelas unggulan. Kelas unggulan adalah kelas dimana hanya anak-anak yang cerdas dalam pelajaran (akademis) saja yang bisa masuk kelas itu.
          Saat itu nilai akademisku tidak memungkinkan untuk bisa masuk ke kelas unggulan, malah nilai nonakademisku yang baik. Saat ini aku jarang sekali bertemu dengan dia. Bahkan kami pun setiap berpapasan tidak pernah saling tegur sapa. Padahal dulu dimana pun kami bertemu atau hanya berpapasan pasti akan tegur sapa. Sikapnya jadi cuek padaku.


***

Flasback Part 3


          Sekarang aku menjadi siswi kelas 9. Aku senang sekali. Karena aku bisa satu kelas lagi dengan dia (Kresa). Aku berharap kami bisa seperti dulu. Seperti saat aku dan dia di kelas 7. Harapanku sangat besar tentang itu dan aku sangat bahagia saat membayangkan bahwa aku dan dia bisa bersama seperti dulu. Bahkan bisa lebih.
          Namun, harapanku pupus sudah. Ada kabar bahwa dia sudah berpacaran dengan Intan. Saat aku mendengar kabar itu awalnya aku tidak percaya. Namun, waktu demi waktu aku mulai mempercayainya. Itu dikarenakan sikap dan sifatnya yang berubah. Dulu dia selalu terbuka dan ramah padaku dan semua teman-teman di kelas. Namun, sekarang dia menjadi tertutup dan cuek padaku. Awalnya aku kira dia hanya cuek padaku ternyata dia juga cuek pada semua teman-teman di kelas. Terutama teman-teman cewek.
          3 bulan berlalu. Aku mendengar kabar yang membahagiakan. Yaitu dia (Kresa) putus dengan Intan. Aku sangat senang pada waktu itu. Dan sikapnya pun berubah seperti dulu lagi, yaitu menjadi terbuka dan ramah.
          Hari berlalu demi hari dan bulan berlalu demi bulan. Tidak terasa sudah 3 tahun aku memendam perasaan ini. Rasa sukaku semakin dalam dan sepertinya sekarang sudah menjadi cinta.
          Aku ingin menyatakan perasaanku padanya. Hari itu aku berencana untuk menyatakan perasaanku padanya. Namun, sebelum aku mendekatinya ada teman yang mendekatiku terlebih dahulu. Namanya Figih.
          “Yunia... aku menyukaimu sejak kita di kelas 7. Kamu mau tidak menjadi pacarku ?” ungkapnya tegas.
          Aku hanya diam. Walau ada Figih di depanku dan menyatakan cinta padaku. Namun, hatiku tak berespon seperti saat Kresa berada di depanku.
          “Maaf, lebih baik kita berteman saja. Kita sudah kelas 9. Aku mau konsen pada pelajaran.” jawabku tegas. Sebenarnya aku tidak tega menolak cintanya. Namun, hatiku tidak bisa menerima Figih.
          Hari kemudian aku mencoba untuk mendekati Kresa dan menyatakan cinta padanya. Namun, tidak aku sangka dia menjauh dan menjadikanku bahan tawaan dengan teman-temannya.
          “Wah... ada apa kamu ke sini? Kamu mau nyari pacar kamu ya?” tanyanya menyindir.
          “Pa... pacar? Si... siapa?” tanyaku bingung dan gerogi.
          “Siapa lagi kalau bukan Figih? Hahaha...” jawabnya dengan menyindir lalu tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya yang lain (anak-anak cowok di yang duduk di dekatnya).
          Setelah mendengar jawabannya aku hanya diam. Lalu aku pergi meninggalkannya dan teman-temannya yang sedang tertawa terbahak-bahak karena sudah menyindirku. Aku tak menyangka ternyata dia seperti itu. Mungkin ini karena dia tidak tau, bahwa yang aku cari adalah dia. Dan cintanya. Bukan Figih.
          Setelah kejadian itu dia mulai sering menyindirku. Karna aku sudah menolak cinta Figih. Aku tidak tau kenapa dia seperti itu. Aku hanya bisa diam saat dia menyindirku. Karena aku merasa, sepertinya hanya saat dia menyindirkulah, aku bisa dekat dengannya.
          Itu terjadi karena temanku Tresa sangat akrab dengannya. Nama mereka memang hampir mirip, maka tidak jarang mereka di buat bahan sindiran teman-teman satu kelas. Bukan hanya nama mereka yang hampir mirip. Namun, rumah mereka juga berdekatan (bertetangga).
          Kalau dilihat dan di bandingkan antara aku dan Tresa, maka akulah yang kalah. Tresa memiliki kesempatan yang sangat besar untuk berada di samping Kresa setiap saat dan dia selalu bisa membuat Kresa tersenyum. Sedangkan aku, aku tidak bisa seperti Tresa. Aku hanya bisa melihat Kresa dari jauh.
          Setiap teman-teman tanya apakah Tresa menyukai Kresa, dia selalu menjawab tidak. Namun, apabila aku melihat tatapan mata Tresa pada Kresa, seakan ada cinta yang tersirat diantara mereka.
          Hatiku menjadi sedih, sangat sedih. Melihat keakraban Tresa dengan Kresa. Rasanya sakit.

***

Flasback Part 4


          Hari ini adalah hari perpisahan sekolah. Semua murid kelas 9 berlibur ke Pulau Dewata (Bali) selama 3 hari 2 malam. Sungguh sangat menyenangkan bisa berkumpul dengan teman-teman dan bermain sepuasnya sebelum berpisah. Karena setelah pulang dari Pulau Bali maka kemungkinan untuk seperti saat itu sangat kecil, bahkan tidak akan pernah bisa lagi.
          Hari pertama dan malam pertama menginap di hotel, kami lewatkan dengan bercanda gurau dan lain-lain. Sunguh sangat menyenangkan. Tapi hatiku tak seperti hati teman-temanku saat itu. Hatiku malah bersedih, bahkan rasanya sangat sakit. Karena aku melihat Kresa sangat akrab dengan Tresa. Akrab sekali. Seakan mereka adalah pasangan kekasih.
          Hari kedua tepatnya di malam kedua kami menginap di hotel. Aku melihat Kresa duduk sendiri di anak tangga. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya dan duduk di sampingnya.
          “Kenapa kamu disini sendirian?” tanyaku ramah.
          “Tidak apa. Aku hanya ingin mencari udara segar.” jawabnya ramah.
          Aku tersenyum saat mendengarkan jawabannya. Aku melihat ke sekitar dan meresakan dinginnya udara malam saat itu. Sebenarnya aku kedinginan kalau lama-lama duduk di anak tangga, tapi rasa dingin itu perlahan menjadi hangat, terutama di sebelah kanan, dimana Kresa berada di sampingku. Sangat menyenangkan, aku berharap waktu bisa berhenti dan aku bisa lebih lama berada di dekatnya. Tanpa aku sadari, aku terus memperhatikannya. Aku merasa nyaman saat berada di sampingnya. Dengan perlahan dia menoleh ke arahku. Kami sempat saling pandang beberapa menit, wajah kami sangat dekat. Jantungku berdetak sangat cepat, itu membuatku gerogi.
          “Aku suka kamu.” kataku tiba-tiba. Aku terkejut saat mendengar perkataanku sendiri. Kalimat itu keluar begitu saja. Aku menjadi salah tingkah karnanya.
          Dia pun terkejut mendengar pengakuanku.
          “Maaf Yunia... aku sudah punya pacar.” jawabnya lemah sambil memalingkan wajahnya dariku dengan perlahan.
          “Si... siapa?” tanyaku bingung dan kecewa.
          “Tresa.” jawabnya tegas namun pelan.
          Aku hanya diam. Hatiku hancur. Cintaku yang selama ini aku pendam selama 3 tahun, ternyata pupus dalam waktu yang sesingkat itu.
          “Sekali lagi aku minta maaf.” katanya perlahan, namun apabila di dengar dari suaranya seakan dia sangat menyesal karena sudah menolakku. “Sudah larut lebih baik kamu cepat tidur. Besok kita harus bangun pagikan ?” sambungnya ramah lalu pergi meninggalkanku sendirian duduk di anak tangga pada larut malam.

***

Flasback Part 5


          Di pagi hari berikutnya. Semua murid kelas 9 di haruskan masuk kedalam bus masing-masing. Karena aku dan Kresa satu bus maka mau tidak mau aku harus bertemu dengannya lagi. Pintu bus masih penuh dengan anak-anak yang mau masuk kedalam bus. Aku pun mengalah, lalu aku mundur. Aku mempersilahkan teman-temanku masuk terlebih dahulu. Begitu juga dengan Kresa. Mungkin dia melihatku lalu dia berjalan mendekatiku.
          “Anu... Yunia... pa... pagi.” sapanya gerogi. Mungkin dia masih merasa bersalah karena sudah menolakku tadi malam dan meninggalkanku sendirian.
          Aku terdiam cukup lama setelah mendengar sapaannya dan memalingkan wajahku. Aku menguatkan diriku untuk membalikkan badan dan menatap matanya. Setelah aku merasa siap aku menoleh ke arahnya. “Pagi Kresa.” jawabku ramah dan riang.
          “Kamu... kamu cantik sekali pagi ini.” katanya dengan malu-malu.
          “Terimakasih. Kamu kenapa? GR ya? Waktu aku bilang suka, yang waktu itu bohong, kok! Kamukan udah punya pacar. Aku juga enggak boleh kalah dong! Pacarku harus 100 kali lebih keren dari kamu! Hahaha...” kataku menyindir lalu tertawa.
          Padahal masih ada 3 temanku yang ingin masuk ke dalam bus. Tapi dengan cepat aku mendului mereka naik ke dalam bus dan aku langsung duduk di sebelah Sahabatku. Namanya Yola. Aku duduk dengan kasar, dan itu membuat Yola terkejut. Lalu aku tutup wajahku dengan sapu tangan yang selalu aku bawa kemana pun aku pergi saat di Bali.
          “Apa kamu tidak apa? Aku tadi melihat kamu mengobrol dengan Kresa. Apa kamu tidak ap...” katanya dengan panik namun dengan suara yang pelan.
          Belum sampai selesai Yola berkata aku sudah langsung memeluknya. Dan dia pun menerima pelukanku dengan ramah.
          “Sudahlah... tidak apa... masih banyak lelaki lain yang lebih baik dari dia... sudah tidak apa...” katanya mencoba menenangkanku.
          Dengan perlahan aku melepaskan pelukanku. Lalu aku duduk seperti awal dan aku tutup mukaku dengan sapu tanganku. Tanpa aku sadari, aku menangis. Yola yang berada di sampingku hanya bisa diam sambil memperhatikanku.
          “Yola... Yunia kenapa ?” tanya Kresa saat melewati tempat duduk aku dan Yola.
          “Tadi Yunia dapet telepon dari mamanya. Katanya kucingnya mati di tabrak sepeda motor.” jawab Yola berbohong.
          “Hanya karena kucingnya mati dia sampai menangis seperti itu?” tanya Kresa menyindir.
          “Sudah pergi sana! Bentar lagi busnya mau berangkat!” bentak  Yola dingin tanpa menghiraukan pertanyaan Kresa.
          “Iya... iya... dingin banget sih!” kata Kresa jengkel sambil berjalan menuju tempat duduknya.
          Setelah membentak Kresa, Yola memandangku lagi. Dengan perlahan aku menurunkan sapu tangan dari wajahku dan mulai menyeka air mata yang menetes di pipiku. Lalu aku menoleh padanya.
          “Thanks ya.” kataku sambil tersenyum.
          “Apa kamu sudah tak apa?” tanyanya khawatir.
          “Iya.” jawabku lemah sambil tersenyum.
           Yola tersenyum setelah mendengar jawabku.
          Dengan perlahan aku memalingkan wajahku ke dekat kaca jendela.
          “Ah, aku memang bodoh. Seharusnya aku sudah tau ini dari awal. Kresa tidak pernah menyukaiku. Dia hanya menganggapku sebagai temannya saja. Hanya teman. Tidak lebih. Kresa... Walau pun kau sudah menolakku tapi cintaku untukmu masih tetap ada di dalam hatiku. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu. Semoga kamu bahagia dengan apa yang sudah kamu miliki.” kataku di dalam hati lalu aku tersenyum namun air mataku menetes. Kini aku sadar, cinta tidak harus memiliki. Aku senang karna sudah mencintainya, aku pun juga senang karena aku sudah bisa menyatakan perasaanku padanya. Dia tidak perlu menjawabnya, aku tak butuh jawabannya, yang aku inginkan adalah agar dia tau perasaanku. Itu sudah cukup untukku. Bagiku, kebahagiaannya sangatlah berarti bagiku. Karena aku mencintainya.
~SELESAI~