Tersenyum Dalam Tangisan
Di SMP Negeri 1 Balongbendo ada sebuah kisah
cinta yang hanya di ketahui seorang siswi itu sendiri. Siswi itu adalah aku.
Sudah cukup lama aku menyimpan kisah cinta ini. Sekarang aku ingin menceritakan
apa yang aku tau tentang cinta.
Kisah ini dimulai saat hari pertama
masuk sekolah. Saat itu aku masih kelas 7 dan hari itu adalah hari pertama aku
masuk SMP Negeri 1 Krian. Sekolahku
tidak sebesar dan seluas yang aku kira. Namun di dalam sekolah itu aku memiliki
kisah cinta yang sangat mendalam.
***
Flasback Part 1
“Perkenalkan nama saya Yunia Rudiawan.
Saya berasal dari sekolah yang mungkin kalian sudah kenal, yakni SD Negeri 3
Krian. Cita-cita saya ingin menjadi pengusaha sukses dan terkenal.” kataku yang
sedang memperkenalkan diri di depan teman-teman baruku di kelas dan sekolah
baruku.
Tidak terasa sekarang aku sudah kelas
7. Padahal aku masih ingat saat aku bermain-main dengan bebas bersama teman-temanku
di SD Negeri 3 Krian. Tetapi sekarang aku sudah harus lebih dewasa. Aku tidak
boleh terlalu banyak bermain seperti saat aku di SD dulu.
“Perkenalkan namaku Kresa Pangeran.
Aku berasal dari SD Negeri 4 Krian. Cita-citaku ingin menjadi dokter.” katanya
dengan tegas dan ramah. Walaupun dia sama sepertiku, yakni anak baru kelas 7.
Namun, cara dia berbicara tidak seperti teman-teman baruku yang lain. Dia sangat
ramah dan bersahabat. Cara bicaranya sopan dan tegas dan juga sesekali dia
tersenyum sambil memandang kami semua (teman-teman satu kelas).
‘Dag... Dig... Dug...’
Itulah yang aku rasakan setiap bertemu
denganya atau berpapasan dengannya dan saat aku mengobrol dengannya, rasanya
nyaman dan menyenangkan. Seakan aku ingin selalu berada di sisinya dan tak
ingin berpisah dengannya.
***
Flasback Part 2
Sekarang aku menjadi siswi kelas 8.
Seharusnya aku senang. Karena aku bisa naik kelas. Namun, saat ini aku merasa
kecewa dan sedih. Aku kecewa karena aku tidak bisa satu kelas lagi dengan dia
(Kresa). Dan aku sangat sedih. Karena aku tidak bisa bersama dengannya seperti
dulu saat aku di kelas 7.
Dulu tidak setiap hari aku bisa
mengobrol dengan dia. Tapi aku bisa setiap hari melihatnya. Itu lebih dari
cukup bagiku untuk saat itu. Saat aku di kelas 7.
Namun ternyata dulu dengan sekarang
itu berbeda. Sekarang dia satu kelas dengan salah satu teman baikku. Namanya
Nafah Zahrah. Dia pernah curhat padaku. Dia berkata bahwa dia menyukain Kresa.
Saat mendengar itu aku hanya bisa diam. Aku tersenyum untuknya, namun hatiku
menangis. Tidak ada yang bisa aku perbuat. Aku memang menyukai Kresa. Tapi, aku
tak bisa menyakiti hati teman baikku. Nafah tidak seperti diriku yang hanya
memendam perasaan ini di dalam hati saja. Dengan halus Nafah mendekati Kresa.
Dan dia pun mulai memancing Kresa agar menyukainya. Namun ternyata gagal. Kresa
lebih menyukai perempuan lain, yaitu Intan. Intan tidak satu kelas dengan Kresa.
Namun mereka dapat dekat karena mereka berdua masuk kelas unggulan. Kelas
unggulan adalah kelas dimana hanya anak-anak yang cerdas dalam pelajaran
(akademis) saja yang bisa masuk kelas itu.
Saat itu nilai akademisku tidak
memungkinkan untuk bisa masuk ke kelas unggulan, malah nilai nonakademisku yang
baik. Saat ini aku jarang sekali bertemu dengan dia. Bahkan kami pun setiap
berpapasan tidak pernah saling tegur sapa. Padahal dulu dimana pun kami bertemu
atau hanya berpapasan pasti akan tegur sapa. Sikapnya jadi cuek padaku.
***
Flasback Part 3
Sekarang aku menjadi siswi kelas 9.
Aku senang sekali. Karena aku bisa satu kelas lagi dengan dia (Kresa). Aku
berharap kami bisa seperti dulu. Seperti saat aku dan dia di kelas 7. Harapanku
sangat besar tentang itu dan aku sangat bahagia saat membayangkan bahwa aku dan
dia bisa bersama seperti dulu. Bahkan bisa lebih.
Namun, harapanku pupus sudah. Ada
kabar bahwa dia sudah berpacaran dengan Intan. Saat aku mendengar kabar itu
awalnya aku tidak percaya. Namun, waktu demi waktu aku mulai mempercayainya.
Itu dikarenakan sikap dan sifatnya yang berubah. Dulu dia selalu terbuka dan
ramah padaku dan semua teman-teman di kelas. Namun, sekarang dia menjadi
tertutup dan cuek padaku. Awalnya aku kira dia hanya cuek padaku ternyata dia
juga cuek pada semua teman-teman di kelas. Terutama teman-teman cewek.
3 bulan berlalu. Aku mendengar kabar
yang membahagiakan. Yaitu dia (Kresa) putus dengan Intan. Aku sangat senang
pada waktu itu. Dan sikapnya pun berubah seperti dulu lagi, yaitu menjadi
terbuka dan ramah.
Hari berlalu demi hari dan bulan
berlalu demi bulan. Tidak terasa sudah 3 tahun aku memendam perasaan ini. Rasa
sukaku semakin dalam dan sepertinya sekarang sudah menjadi cinta.
Aku ingin menyatakan perasaanku
padanya. Hari itu aku berencana untuk menyatakan perasaanku padanya. Namun,
sebelum aku mendekatinya ada teman yang mendekatiku terlebih dahulu. Namanya Figih.
“Yunia... aku menyukaimu sejak kita di
kelas 7. Kamu mau tidak menjadi pacarku ?” ungkapnya tegas.
Aku hanya diam. Walau ada Figih di
depanku dan menyatakan cinta padaku. Namun, hatiku tak berespon seperti saat Kresa
berada di depanku.
“Maaf, lebih baik kita berteman saja.
Kita sudah kelas 9. Aku mau konsen pada pelajaran.” jawabku tegas. Sebenarnya
aku tidak tega menolak cintanya. Namun, hatiku tidak bisa menerima Figih.
Hari kemudian aku mencoba untuk mendekati
Kresa dan menyatakan cinta padanya. Namun, tidak aku sangka dia menjauh dan
menjadikanku bahan tawaan dengan teman-temannya.
“Wah... ada apa kamu ke sini? Kamu mau
nyari pacar kamu ya?” tanyanya menyindir.
“Pa... pacar? Si... siapa?” tanyaku
bingung dan gerogi.
“Siapa lagi kalau bukan Figih?
Hahaha...” jawabnya dengan menyindir lalu tertawa terbahak-bahak bersama
teman-temannya yang lain (anak-anak cowok yang duduk di dekatnya).
Setelah mendengar jawabannya aku hanya
diam. Lalu aku pergi meninggalkannya dan teman-temannya yang sedang tertawa
terbahak-bahak karena sudah menyindirku. Aku tak menyangka ternyata dia seperti
itu. Mungkin ini karena dia tidak tau, bahwa yang aku cari adalah dia. Dan
cintanya. Bukan Figih.
Setelah kejadian itu dia mulai sering
menyindirku. Karna aku sudah menolak cinta Figih. Aku tidak tau kenapa dia
seperti itu. Aku hanya bisa diam saat dia menyindirku. Karena aku merasa,
sepertinya hanya saat dia menyindirkulah, aku bisa dekat dengannya.
Itu terjadi karena temanku Tresa
sangat akrab dengannya. Nama mereka memang hampir mirip, maka tidak jarang
mereka di buat bahan sindiran teman-teman satu kelas. Bukan hanya nama mereka
yang hampir mirip. Namun, rumah mereka juga berdekatan (bertetangga).
Kalau dilihat dan di bandingkan antara
aku dan Tresa, maka akulah yang kalah. Tresa memiliki kesempatan yang sangat
besar untuk berada di samping Kresa setiap saat dan dia selalu bisa membuat
Kresa tersenyum. Sedangkan aku, aku tidak bisa seperti Tresa. Aku hanya bisa
melihat Kresa dari jauh.
Setiap teman-teman tanya apakah Tresa
menyukai Kresa, dia selalu menjawab tidak. Namun, apabila aku melihat tatapan mata
Tresa pada Kresa, seakan ada cinta yang tersirat diantara mereka.
Hatiku menjadi sedih, sangat sedih.
Melihat keakraban Tresa dengan Kresa. Rasanya sakit.
***
Flasback Part 4
Hari ini adalah hari perpisahan
sekolah. Semua murid kelas 9 berlibur ke Pulau Dewata (Bali) selama 3 hari 2
malam. Sungguh sangat menyenangkan bisa berkumpul dengan teman-teman dan
bermain sepuasnya sebelum berpisah. Karena setelah pulang dari Pulau Bali maka
kemungkinan untuk seperti saat itu sangat kecil, bahkan tidak akan pernah bisa
lagi.
Hari pertama dan malam pertama
menginap di hotel, kami lewatkan dengan bercanda gurau dan lain-lain. Sunguh
sangat menyenangkan. Tapi hatiku tak seperti hati teman-temanku saat itu.
Hatiku malah bersedih, bahkan rasanya sangat sakit. Karena aku melihat Kresa sangat
akrab dengan Tresa. Akrab sekali. Seakan mereka adalah pasangan kekasih.
Hari kedua tepatnya di malam kedua
kami menginap di hotel. Aku melihat Kresa duduk sendiri di anak tangga. Aku
memberanikan diri untuk mendekatinya dan duduk di sampingnya.
“Kenapa kamu disini sendirian?”
tanyaku ramah.
“Tidak apa. Aku hanya ingin mencari
udara segar.” jawabnya ramah.
Aku tersenyum saat mendengarkan
jawabannya. Aku melihat ke sekitar dan meresakan dinginnya udara malam saat
itu. Sebenarnya aku kedinginan kalau lama-lama duduk di anak tangga, tapi rasa
dingin itu perlahan menjadi hangat, terutama di sebelah kanan, dimana Kresa
berada di sampingku. Sangat menyenangkan, aku berharap waktu bisa berhenti dan
aku bisa lebih lama berada di dekatnya. Tanpa aku sadari, aku terus
memperhatikannya. Aku merasa nyaman saat berada di sampingnya. Dengan perlahan
dia menoleh ke arahku. Kami sempat saling pandang beberapa menit, wajah kami
sangat dekat. Jantungku berdetak sangat cepat, itu membuatku gerogi.
“Aku suka kamu.” kataku tiba-tiba. Aku
terkejut saat mendengar perkataanku sendiri. Kalimat itu keluar begitu saja.
Aku menjadi salah tingkah karnanya.
Dia pun terkejut mendengar
pengakuanku.
“Maaf Yunia... aku sudah punya pacar.”
jawabnya lemah sambil memalingkan wajahnya dariku dengan perlahan.
“Si... siapa?” tanyaku bingung dan
kecewa.
“Tresa.” jawabnya tegas namun pelan.
Aku hanya diam. Hatiku hancur. Cintaku
yang selama ini aku pendam selama 3 tahun, ternyata pupus dalam waktu yang
sesingkat itu.
“Sekali lagi aku minta maaf.” katanya
perlahan, namun apabila di dengar dari suaranya seakan dia sangat menyesal
karena sudah menolakku. “Sudah larut lebih baik kamu cepat tidur. Besok kita
harus bangun pagikan ?” sambungnya ramah lalu pergi meninggalkanku sendirian duduk
di anak tangga pada larut malam.
***
Flasback Part 5
Di pagi hari berikutnya. Semua murid kelas
9 di haruskan masuk kedalam bus masing-masing. Karena aku dan Kresa satu bus
maka mau tidak mau aku harus bertemu dengannya lagi. Pintu bus masih penuh
dengan anak-anak yang mau masuk kedalam bus. Aku pun mengalah, lalu aku mundur.
Aku mempersilahkan teman-temanku masuk terlebih dahulu. Begitu juga dengan Kresa.
Mungkin dia melihatku lalu dia berjalan mendekatiku.
“Anu... Yunia... pa... pagi.” sapanya
gerogi. Mungkin dia masih merasa bersalah karena sudah menolakku tadi malam dan
meninggalkanku sendirian.
Aku terdiam cukup lama setelah
mendengar sapaannya dan memalingkan wajahku. Aku menguatkan diriku untuk
membalikkan badan dan menatap matanya. Setelah aku merasa siap aku menoleh ke
arahnya. “Pagi Kresa.” jawabku ramah dan riang.
“Kamu... kamu cantik sekali pagi ini.”
katanya dengan malu-malu.
“Terimakasih. Kamu kenapa? GR ya?
Waktu aku bilang suka, yang waktu itu bohong, kok! Kamukan udah punya pacar.
Aku juga enggak boleh kalah dong! Pacarku harus 100 kali lebih keren dari kamu!
Hahaha...” kataku menyindir lalu tertawa.
Padahal masih ada 3 temanku yang ingin
masuk ke dalam bus. Tapi dengan cepat aku mendului mereka naik ke dalam bus dan
aku langsung duduk di sebelah Sahabatku. Namanya Yola. Aku duduk dengan kasar,
dan itu membuat Yola terkejut. Lalu aku tutup wajahku dengan sapu tangan yang
selalu aku bawa kemana pun aku pergi saat di Bali.
“Apa kamu tidak apa? Aku tadi melihat
kamu mengobrol dengan Kresa. Apa kamu tidak ap...” katanya dengan panik namun
dengan suara yang pelan.
Belum sampai selesai Yola berkata aku
sudah langsung memeluknya. Dan dia pun menerima pelukanku dengan ramah.
“Sudahlah... tidak apa... masih banyak
lelaki lain yang lebih baik dari dia... sudah tidak apa...” katanya mencoba
menenangkanku.
Dengan perlahan aku melepaskan
pelukanku. Lalu aku duduk seperti awal dan aku tutup mukaku dengan sapu tanganku.
Tanpa aku sadari, aku menangis. Yola yang berada di sampingku hanya bisa diam
sambil memperhatikanku.
“Yola... Yunia kenapa ?” tanya Kresa
saat melewati tempat duduk aku dan Yola.
“Tadi Yunia dapet telepon dari
mamanya. Katanya kucingnya mati di tabrak sepeda motor.” jawab Yola berbohong.
“Hanya karena kucingnya mati dia
sampai menangis seperti itu?” tanya Kresa menyindir.
“Sudah pergi sana! Bentar lagi busnya
mau berangkat!” bentak Yola dingin tanpa
menghiraukan pertanyaan Kresa.
“Iya... iya... dingin banget sih!”
kata Kresa jengkel sambil berjalan menuju tempat duduknya.
Setelah membentak Kresa, Yola
memandangku lagi. Dengan perlahan aku menurunkan sapu tangan dari wajahku dan
mulai menyeka air mata yang menetes di pipiku. Lalu aku menoleh padanya.
“Thanks ya.” kataku sambil tersenyum.
“Apa kamu sudah tak apa?” tanyanya
khawatir.
“Iya.” jawabku lemah sambil tersenyum.
Yola tersenyum setelah mendengar jawabku.
Dengan perlahan aku memalingkan
wajahku ke dekat kaca jendela.
“Ah, aku memang bodoh. Seharusnya aku
sudah tau ini dari awal. Kresa tidak pernah menyukaiku. Dia hanya menganggapku
sebagai temannya saja. Hanya teman. Tidak lebih. Kresa... Walau pun kau sudah
menolakku tapi cintaku untukmu masih tetap ada di dalam hatiku. Aku akan selalu
mendoakan kebahagiaanmu. Semoga kamu bahagia dengan apa yang sudah kamu miliki.”
kataku di dalam hati lalu aku tersenyum namun air mataku menetes. Kini aku
sadar, cinta tidak harus memiliki. Aku senang karna sudah mencintainya, aku pun
juga senang karena aku sudah bisa menyatakan perasaanku padanya. Dia tidak
perlu menjawabnya, aku tak butuh jawabannya, yang aku inginkan adalah agar dia
tau perasaanku. Itu sudah cukup untukku. Bagiku, kebahagiaannya sangatlah
berarti bagiku. Karena aku mencintainya.
~SELESAI~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar