You Are My Sister, Forever




 You Are My Sister, Forever
          



 Di sebuah sekolah swasta di Malang ada seorang siswi SMA yang memiliki paras yang cantik dan hati yang baik. Dia adalah primadona sekolah. Namanya adalah Viola. Begitu banyak prestasi yang dia dapat. Prestasi akademis maupun prestasi non akademis. Jadi tidak heran kalau dia memiliki banyak penggemar. Bukan hanya dari siswa dan siswi melainkan juga dari guru-guru. Dia lebih suka menyendiri sambil membaca buku di tempat yang sepi. Karena dia kurang suka dengan suasana yang ramai dan riuh.
         “Eh... coba deh kamu lihat cewek itu ! Belagu banget sih dia ? Mentang-mentang primadona sekolah terus dia jadi seenaknya saja.” celetuk Vella. Vella adalah sepupu primadona sekolah, yaitu sepupu Viola. Sejak kecil Vella tidak pernah menyukai Viola. Karena apa pun yang dilakukan Vella pasti akan di banding-bandingkan dengan sepupunya itu. Bahkan saat mereka berumur 6 tahun, Vella pernah mendorong Viola ke jurang di belakang rumah Vella yang saat itu masih berada di Bandung. Walau apapun yang dilakukan Vella, Viola tidak pernah marah apa lagi menyimpan dendam pada Vella. Karena Viola selalu beranggapan kalau Vella adalah sepupu satu-satunya yang dia miliki dan yang paling dia sayang. Kedua orang tua Viola meninggal dunia sejak Viola berumur 6 tahun karena kecelakaan. Jadi sejak di tinggal kedua orang tuanya Viola harus bisa mandiri, walau kedua orang tua Viola memberikan warisan yang tidak sedikit jumlahnya, yaitu 2 rumah mewah di Mojokerto dan di Bandung, apartemen di Jakarta, perkebunan teh di Malang yang berhektar–hektar luasnya, dan juga perusahaan yang sekarang sedang dipegang oleh ayah Vella setelah ayah Viola meninggal.
         “Memang kenapa sama Viola? Seenaknya gimana? Diakan cuma duduk dan membaca buku saja.” jawab Xaina heran. Xaina adalah teman dekat Vella.
         “Iya bener. Kenapa sih kamu kok enggak suka banget kalau liat Viola? Padahal dia enggak pernah nyakitin kamu.” timpal Xaini. Xaini adalah saudara kembar Xaina yang juga teman dekat Vella.
         “Iya memang dia tidak pernah nyakitin aku dari luar. Tetapi dia selalu nyakitin aku dari dalam.” jawab Vella dingin.
         “Nyakitin dari dalam? Maksud kamu apa sih? Aku enggak ngerti.” tanya Xaina bingung.
         “Kamu enggak bakal tau apa yang aku rasain selama ini. Sudah aku mau ke sana, kalau kalian enggak mau ikut, yasudah.” jawab Vella dingin sambil berjalan kearah Viola yang sedang asyik membaca buku di belakang sekolah.
         “Tunggu Vella. Kami ikut !” teriak Xaina dan Xaini serempak.
         Sesampainya di depan Viola. Dengan kasar Vella mengambil buku yang dibaca Viola lalu melemparkannya begitu saja.
         “Dasar cupu ! Bisanya cuma membaca buku saja. Kenapa... enggak punya teman? Kasian!” ejek Vella.
        Viola hanya diam saja.
         “Ayo pergi!” sambung Vella mengajak kedua temannya pergi meninggalkan Viola sendirian.
         “Yang sabar ya Viola.” kata Xaina ke Xoura lalu bergegas berjalan di belakang Vella.
         “Jangan dendam dengan Vella ya, Viola!” pinta Xaini ke Viola lalu bergegas menyusul Vella dan saudara kembarnya.
         Viola hanya tersenyum dengan perkataan Xaina dan pinta Xaini. Viola tau kalau sebenarnya Vella adalah anak yang baik. Hanya saja dia kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya dan keluarga mereka. Apapun yang dilakukan Vella pada Viola walaupun sampai melukain Viola. Namun, Viola hanya tersenyum dan selalu memaafkan apapun yang dilakukan sepupunya itu.
         Setelah memperhatikan Vella berjalan pergi sampai tak terlihat lagi bayangannya baru dia mencari bukunya yang tadi sempat di lempar Vella. Ternyata bukunya terlempar tidak jauh dari tempat yang ia duduki. Saat ia hendak mengambil bukunya yang jatuh ada sebuah tangan yang sudah memungut bukunya terlebih dahulu.
          “Ini buku kamu kan?” tanya Ardian. Ardian adalah siswa yang paling populer di sekolah. Ardian juga kapten tim basket di sekolah. Tubuhnya yang ideal dan wajahnya yang tampan membuat banyak siswi yang suka padanya. Bukan hanya itu Ardian juga pintar dalam bidang akademis dan memiliki keluarga yang kaya raya. Ayahnya adalah pemilik sekolah ini. Hampir seluruh siswi di sekolah suka dengan Ardiansyah tidak terkecuali Viola. Sejak pertama bertemu, Viola sudah jatuh hati pada Ardian.
          “I... i... iya.” jawab Viola gugup. Mimpi apa dia semalam? Ardian berada sangat dekat dengan dirinya. Viola jadi bisa melihat Ardian dari dekat dengan matanya sendiri. Padahal dari dulu Viola hanya memperhatikan Ardian dari jauh.
         “Kamu kenapa? Kenapa kamu diam saja saat di ganggu Vella?” tanya Ardian prihatin sambil mengembalikan buku Viola yang dia pungut tadi.
         Vella tidak mengganggu kok. Dia hanya menyapaku saja.” jawab Viola pelan sambil menerima bukunya. “Terimakasih ya.” ucap Noura malu-malu. Membuat Ardian tersenyum.
        “Hanya menyapa? Dia sudah melempar buku kamu begitu saja sambil memaki kamu. Apa kamu hanya diam saja?” tanya Ardian heran setelah sempat tersenyum melihat tingkah Noura.
         “Apapun yang dia lakukan padaku, aku tidak keberatan. Karena dia adalah sepupu yang aku sayang.” jawab Viola sambil tersenyum.
          Krinnnnggggg... krinnnngggg...’ bel berbunyi. Itu tandanya jam istirahat telah usai dan pelajaran ke 5 sampai ke 8 akan segera di mulai.
         “Sudah bel. Masuk kelas yuk!” ajak Ardian. Ardian juga satu kelas dengan Viola yaitu di kelas XI-1. Yaitu kelas yang isinya siswa-siswi yang cerdas dan memberikan banyak prestasi untuk sekolah.
         “Iya” jawab Viola malu-malu sambil mengikuti Ardian berjalan menuju kelas XI-1.
         Vella yang melihat kedekatan Viola dengan Ardian menjadi marah. Sebenarnya Ardian adalah kekasih Vella. Sejak kelas X awal masuk sekolah Vella telah resmi menjadi kekasih Ardian. Bukan Ardian yang menyatakan perasaannya ke Vella. Namun Vellalah yang dengan berani perasaannya pada Ardian di depan teman–teman dan senior Ardian saat Ardian berlatihan basket. Sebenarnya Ardian tidak ingin menerima Vella namun saat itu dia dipaksa oleh kakak–kakak seniornya. Sehingga dengan berat hati dia menerima Vella sebagai pacarnya. Yang ada di hati Ardian bukanlah Vella melainkan sepupunya, yaitu Viola.
         Sepulang sekolah Vella bergegas ke kelas XI-1. Seperti biasa dia pergi menemui Ardian. Setelah mendapati Ardian sedang merapikan buku pelajaran dan memasukkan ke tasnya Vella langsung berlari menuju Ardian dan memeluk Ardian dari belakang. Sikap Vella tersebut seketika membuat kelas XI-1 ramai dan riuh. Viola yang melihat Vella memeluk Ardian menjadi salah tingkah dan dia bergegas keluar kelas dan pulang. Ardian yang melihat Viola pergi begitu saja langsung melepaskan pelukan Vella dan berlari mengejar Viola. Sebelum mengejar Viola Ardian dengan marah berkata “Apa yang kamu lakukan? Kita putus.” kepada Vella. Vella yang ditinggalkan oleh kekasih yang amat dia cinta begitu saja menjadi marah dan jengkel, bukan kepada Ardian namun pada sepupunya, yaitu Viola.
         Viola tunggu !” teriak Ardian sambil berlari mengejar Viola yang sedang berjalan cepat seolah–olah dia sedang dibakar oleh rasa cemburu.
         Viola... tunggu... !” teriak Ardian lagi. Karena seakan–akan Viola tidak mendengarkan teriakkannya padahal siswa–siswi yang ada di dekat Viola langsung menoleh ke arah Ardian.
         “Aku bilang tunggu!” kata Ardian sambil memegang tangan kanan Viola setelah dia berhasil mengejar Viola di tengah-tengah lapangan basket.
         “Ada apa? Kenapa kamu mengejarku? Berani sekali kamu meninggalkan Vella begitu saja? Apa yang mau kamu...” belum sampai selesai Viola mengomel tiba–tiba Ardian mencium pipi kanannya. Membuat siswa–siswi di sekitarnya ramai dan riuh seperti di kelas XI-1 tadi.
         “Aku bilang tunggu! Aku sudah putus dengan Vella. Aku tidak peduli dengannya. Aku hanya peduli denganmu.” kata Ardian setelah membuat Viola salah tingkah dengan sikapnya tadi.
         Setelah berkata begitu Ardian menekuk lutut kirinya seperti sedang memberi hormat pada tuan putri dan memegang kedua tangan Viola. Lalu dia berkata “Viola, aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi kekasihku?”
         Viola tidak berkata apapun namun dia tersenyum dan menganggukkan kepala. Itu tandanya Viola menerima Ardian menjadi kekasihnya. Dengan reflek Ardian memeluk Viola dengan wajah berseri karena bahagia. Sekolah menjadi lebih ramai dan riuh karena tingkah Ardian yang dengan berani menyatakan cintanya ke primadona sekolah di tengah-tengah lapangan basket.
         Setelah menyatakan perasaannya Ardian mengantarkan Viola pulang dengan motor ninja birunya. Viola memeluk erat Ardiansyah. Tidak seperti saat dia membonceng Vella dan Vella memeluk erat dirinya, Ardian pasti akan langsung mengerem motornya dan menyuruh Vella turun dari motornya lalu meninggalkannya begitu saja. Ardian malah mempercepat laju motornya membuat Viola lebih erat lagi memeluk dirinya.
         Saat mendengar bahwa Ardian menyatakan cinta pada Viola itu membuat Vella semakin marah dan benci pada Viola. Dengan sinis dan kasar dia mengambil ponselnya lalu membuat sebuah pesan singkat untuk Viola lalu mengirimkannya. Isi pesan itu adalah:
         ‘Belum puaskah kamu membuatku di pojokkan oleh keluarga? Sekarang kamu malah merebut kekasih yang aku cinta. Apa sebenarnya maumu? Apa kamu ingin melihatku mati karna kesepian atau apa? Aku sangat membencimu. Selama ini aku tidak bisa membuat kamu pergi dari hidupku. Sekarang biar aku saja yang akan pergi dari hidupmu. Bahkan aku akan pergi dari dunia ini untuk selamanya.’
         Setelah mengirimkan pesan tersebut Vella bergegas pulang. Sesampainya di rumah dia berlari menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Saat dia memasuki kamarnya dia bergegas menuju laci di samping tempat tidurnya dan dia ambil sebuah botol kecil dari laci itu. Ternyata botol itu berisikan racun. Mama Vella adalah seorang dokter jadi Vella sedikit tau tentang berbagai macam obat dan racun. Racun yang ia pegang adalah racun yang membuat orang meninggal dalam waktu 5 menit setelah pemakaian. Racun itu adalah racun yang tidak beredar di Indonesia. Melainkan hanya beredar di Amerika Serikat. Dan harganya tidaklah murah.
         Sesampainya Viola di rumah, ia mendapatkan pesan baru yang masuk. Setelah ia membaca isi pesan tersebut Viola langsung berlari keluar rumah dan menuju rumah di sampingnya, yaitu rumah Vella. Dengan terburu–buru dia menggedor–gedor pintu rumah Vella. Dan dibuka oleh Bi Miun. Bi Miun adalah pembantu rumah tangga keluarga Vella.
          “Bi... apa Vella sudah pulang ?” tanya Viola panik.
          “Sudah, non. Baru saja pulang. Mungkin sekarang non Vella ada di kamarnya.” jawab Bi Miun. Memang ada apa ya non ?” tanya Bi Miun ikut panik.
          Setelah mendengar bahwa Vella ada di kamarnya Viola bergegas lari menuju kamar Vella tanpa menghiraukan pertanyaan Bi Miun.
         VELLA !” teriak Viola setelah sampai di kamar Vella dan memergoki Vella membawa sebuah botol kecil di tangannya.
         “Jangan mendekat! Bukankah ini maumu? Kau sudah menghancurkan hidupku. Aku benci padamu. Kalau aku tidak bisa melenyapkanmu dari dunia ini biar aku saja yang lenyap dari dunia ini untuk selamanya.” teriak Vella seperti sedang kehilangan akal. Kemudia Vella tumbang di atas kasurnya.
         VELLA !” teriak Viola panik sambil berlari menuju Vella yang tumbang.
          “Bi... cepat panggil ambulan !” perintah Viola ke Bi Miun dengan panik.
          “Ba... ba... baik non.” jawab Bi Miun dengan gugup dan bergegas menuju ruang tengah untuk menelepon salah satu rumah sakit terdekat.
         Tidak lama kemudian ambulan datang dan Vella berhasil tertolong. Dan untuk kesekian kalinya Violalah yang menjadi penyelamat hidup Vella. Tidak jarang Vella berusah bunuh diri namun selalu gagal. Dan tidak jarang pula Vella berusaha  membunuh Viola namun itu semua sia-sia.
         Untung racun yang di minum Vella masih sempat di netralisirkan. Setelah beberapa jam Vella di dalam ruang UGD akhirnya Vella di pindahkan ke ruang pasien. Semua keluarga menunggu Vella sadar. Tidak tertinggal pula Ardian yang dengan setia mendampingi Viola. Setelah Vella di pindahkan ke ruang pasien Violalah yang menunggu Vella. Karena kedua orang tua Vella harus kembali bekerja. Hanya ada Ardian sekarang yang dengan setia menemani Viola menunggu Vella sadar.
         “Ardian... coba kamu lihat Vella! Dia cantik ya? Bulu matanya indah dan bibirnya sempurna. Tetapi mengapa dia tidak sadar kalau dirinyalah yang sempurna bukannya aku.” kata Viola ke Ardian sambil memandang wajah Vella. Air mata Viola tak bisa terbendung lagi. Dia menangis tersedu-sedu. Ardian yang melihat kekasihnya bersedih dengan reflek memeluk erat Viola. Dan Viola menangis di dalam pelukan Ardian.
         “Iya... Vella memang cantik. Namun sayang iri hati telah merusak kecantikannya.” kata Ardian sambil mengelus-elus kepalaViola. Berusaha menenangkan hati Viola.
         Tanpa mereka ketahui Vella telah sadar dan dia mendengar pembicaran Viola dengan Ardian. Air mata Vella pun tak bisa terbendung ia juga menangis. Namun, tidak seperti Viola yang menangis di dalam pelukan Ardian. Vella menangis sambil memejamkan matanya.
         Viola...” kata Neira lirih.
         “Iya, Vella. Aku disini.” kata Viola sambil memegang tangan kanan Vella dengan panik.
         “Maafkan aku. Karena selama ini aku sudah berulang kali memcoba menyakitimu.” kata Vella pelan.
         “Tidak Vella. Kamu tidak perlu minta maaf karena kamu tidak salah.” jawab Viola mencoba untuk menenangkan Vella.
         “Tolong jangan mengalah lagi Viola. Sikapmu yang suka mengalah itulah yang membuat aku ingin menyingkirkanmu. Sejak dulu aku selalu berfikir kalau kau hanya ingin membuatku lemah dan memojokkan aku di depan keluarga. Namun, sekarang aku sadar betapa besarnya rasa sayangmu padaku. Akan aku relakan Ardian untukmu kalau itu membuatmu bahagia.” kata Vella sambil meneteskan air mata. “Viola...” kata Vella sambil memegang pipi Viola dan menghapus air mata di pipi Viola. “Viola... aku ingin istirahat bisakah kalian tinggalkan aku sendiri?” pinta Vella.
         Viola pun menurut. Dia mengajak Ardian keluar dari ruangan Vella. Dan tanpa Viola sadari permintaan Vella tersebut adalah permintaan terakhir Vella sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya. Ternyata racun yang di minum Vella sangat banyak sehingga walaupun sudah di netralisirkan namun inti dalam racun tersebut sudah masuk ke organ–organ inti dalam tubuh Vella.
         Kematian Vella membuat Viola sangat terpukul. Disaat acara pemakaman Vella, Viola tak henti-hentinya menangis sampai acara pemakaman selesai. Acara sudah selasai, namun Viola tidak mau pergi dari makam Vella. Hanya ada Viola sendiri di makam Vella. Kedua orang tua Vella harus kembali bekerja. Dan Ardian tidak berani mengganggu Viola yang sedang bersedih saat ini, sehingga dia pamit pulang dan meninggalkan Viola sendiri.
         “Ardian... terimakasih karena selama ini kau selalu ada di saat aku butuh.” kata Viola sebelum Ardian pulang.
         Iya. Viola... aku mencintaimu.” kata Ardian sambil tersenyum lalu ia berjalan menjauh dari makam Vella.
         Vella... kau adalah sepupu yang baik. Aku sangat menyayangimu. Aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri. Disaat kamu sedih aku pun turut sedih. Di saat kamu bahagiah aku pun turut bahagia. Maaf kalau aku telah merebut Ardian darimu. Aku hanya tidak ingin kamu bersama orang lain selain diriku. Sekarang kamu telah tiada. Tidak ada artinya pula aku untuk hidup. Karena sesungguhnya aku hidup untuk menemanimu. Lebih baik aku ikut denganmu ke alam sana. Apa kau tidak keberatan kalau aku menemanimu untuk selamanya, Vella? Aku mohon, terimalah aku di sisimu sekali lagi seperti dulu. Vella... aku menyayangimu.” Kata Viola sambil menangis dan dia pun bersandar di atas makam Vella sambil memejamkan matanya dan tersenyum bahagia. Ternyata sebelum acara pemakaman Viola sudah meminum racun seperti Vella untuk bunuh diri yang terakhir kalinya. Hanya saja, racun yang di minum Viola adalah racun yang akan bereaksi 1-2 jam setelah pemakaian. Dan harganya lebih mahal dari racun yang diminum Vella.
        Seperti keinginan Viola, ia telah menemani Vella dimanapun Vella berada. Viola apa sekarang kau senang ? “Aku sangat bahagia. Karena bisa bersama Vella untuk selamanya.” jawab arwah Viola sambil tersenyum dan di sebelahnya juga ada Vella yang sedang tersenyum mendengar jawaban sepupunya. kemudian arwah Viola menghilang dari muka bumi ini bersam arwah Vella untuk selamanya.

TAMAT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar