Oleh Romaniar
Rudiawaty Purnawan
Malam
ini aku sedang bingung. Aku memiliki tugas dari guruku untuk membuat cerpen.
Dan aku berencana untuk ku selesaikan malam ini juga dan akan aku serahkan
besok pagi. Tujuannya sih ya hanya untuk mendapatkan nilai lebih saja. Karna
aku sering membuat cerpen, jadi aku tidak terlalu mempermasalahkan apa bila aku
buat hanya satu malam saja. Namun, yang jadi kendalanya, aku kalau membuat
cerpen itu selalu menggunakan pengalaman orang lain atau khayalanku saja. Sedangkan
tugasku kini, aku diharuskan membuat cerpen dari pengalaman pribadiku sendiri.
Ok
fine... dari pada bingung mau nulis apa jadi aku ngacak-acak laciku untuk
mencari inspirasi sebagai bahan tulisku. Lagi seriusnya ngacak-acak tiba-tiba
mama masuk ke kamar sambil membawa tumpukkan pakaian.
“Lagi
ngapain?” tanya mama. “Oh, lagi nata laci? Baguslah...” lanjutnya.
Aku
hanya diam sambil tersenyum. Soalnya aku enggak berniat untuk menata laci,
mangkannya aku enggak jawab. Hehehe...
“Bisa
tolong lipatkan baju-baju ini? Lalu nanti taruh di lemari.” pinta mama sambil
menaruh tumpukan pakaian diatas kasur.
“Iya
ma.” jawabku singkat sambil memulai melipat pakaian.
Waktuku
tersita untuk melipat pakaian dan menaruh pakaian-pakaian itu kedalam lemari.
Setelah semua beres aku melanjutkan mengacak-acak laciku. Aku milihat ada
tumpukan rapor, ijasah, sertifikat, piagam, dan buku kenanganku dulu.
Kalau dilihat-lihat, aku
punya banyak sekali sertifikat dan piagam. Tapi aku kok merasa belum puas ya?
Aku merasa itu semua belum cukup. Aku masih ingin menambah itu semua. Dan aku
ingin lebih baik dari sekarang. Insya allah, semua bisa kucapai dengan usahaku
yang sungguh-sungguh. Aku jadi teringat saat dulu aku berusaha sendiri ataupun dengan
teman-temanku untuk mendapatkan piagam-piagamku itu. Tidak jarang aku
mengorbankan waktu bermainku untuk berlatih. Melupakan rasa laparku demi
menghafalkan suatau gerakan karate, sebuah naskah drama, ataupun yang lain. Dan
mengurangi waktu tidurku.
Yang
ada di pikiranku saat itu hanya satu. “Aku harus bisa! Menag atau kalah itu tak
jadi masalah. Yang terpenting adalah aku telah berani berusaha dan mencoba
dengan seluruh kemampuanku. Tak ada kata lelah. Tak ada kata istirahat. Dan tak
ada kata bermanja-manja.” Ungkapku selalu sebelum akan bertanding karate,
mengikuti lomba teater, lomba pramuka, dan lomba-lomba yang lain. Bagiku ‘Tak
ada yang tak mungkin. Selama aku mau berusaha dengan seluruh kemampuan yang aku
miliki’.
Papaku
adalah seorang pelatih karate. Bisa dibilang selain menjadi orang tua, papa
juga menjadi guru karateku yang biasa dipanggil dengan shensei. Papa pernah
berkata “Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda”. Aku selalu mengingat
kalimat itu. Dan aku percaya, bahwa apabila aku kalah sekarang, aku akan bisa
menang keesokan harinya. semua akan mungkin, apa bila aku mau instropeksi diri
dan merubah kelemahanku menjadi kelebihanku.
Setelah
aku mengacak-acak laci, aku menemukan sebuah lembaran. Lembaran itu berisikan
sebuah puisi. Puisi yang menyayat hatiku. Entah sejak kapan puisi itu berada di
laciku. Puisi itu berjudul “Disaat Daku
Tua...”. aku membaca puisi itu dengan perlahan. huruf demi huruf, kata demi
kata, dan kalimat demi kalimat.
Disaat Daku Tua...
Disaat daku tua, bukan lagi
diriku yang dulu.
Maklumilah diriku,
bersabarlah dalam menghadapiku.
Disaat daku menumpahkan kuah
sayuran di bajuku,
Disaat daku tidak lagi
mengingat cara mengikat tali sepatu,
Ingatlah saat-saat bagaimana
daku mengajarimu,
Membimbingmu untuk
melakukannya.
Disaat daku dengan pikunnya
mengulang
terus menerus ucapan yang
membosankanmu,
Bersabarlah mendengarkanku,
jangan memotong ucapanku,
Dimasa kecilmu. Daku harus
mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah daku ceritakan ribuan
kali, hingga dirimu terbuai dalam mimpi.
Disaat daku membutuhkanmu
untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkanku.
Ingatlah dimasa kecilmu,
Bagaimana daku dengan
berbagai cara membujukmu untuk mandi?
Disaat daku kebingungan
menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
Janganlah menertawaiku.
Renungkanlah bagaimana daku
dengan sabarnya menjawab
setiap “mengapa” yang engkau
ajukan disaat itu.
Disaat kedua kakiku terlalu
lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda
dan kuat untuk memapahku.
Bagaikan dimasa kecilmu daku
menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.
Disaat daku melupakan topik
pembicaraan kita,
Barilah sedikit waktu padaku
untuk mengingatnya.
Sebenarnya, topik pembicaraan
bukanlah hal yang penting bagiku. Asalkan engkau berada disisiku untuk mendengarkanku,
daku telah bahagia.
Disaat engkau melihat diriku
menua, janganlah bersedih.
Maklumilah diriku, dukunglah
daku,
Bagaikandaku terhadapmu
disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.
Dulu daku menuntunmu menapaki
jalan kehidupan ini.
Kini temanilah daku hingga
akhir jalan hidupku.
Berilah daku cinta kasih dan
kesabaranmu,
Daku akan menerimanya dengan
senyuman penuh syukur.
Di dalam senyumku ini,
tertanam kasih yang tak terhingga padamu.
Air
mataku menetes sedikit demi sedikit membasahi pipi. Aku teringat dengan mama
dan papa yang dengan susah payah membesarkanku, mendidikku, merawatku,
menjagaku hingga aku menjadi seperti sekarang. Aku seolah telah melupakan semua
jasa mereka padaku. Rasa terimakasih yang harusnya mereka dapatkan dariku malah
aku lupakan. Tak ada kata terimakasih yang keluar dari mulutku. Apa lagi kata
maaf.
Aku tinggal bersama mereka, sejakku
masih kecil hingga sekarang ku beranjak dewasa.
Ya Allah... durhakanya diriku yang telah melupakan jasa kedua orang
tuaku. Tak ada kata terimakasih yang keluar dari mulutku untuk kebaikan dan
pengorbanan mama, yang mati-matian mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan
aku. Tak ada kata maaf yang terucap dari bibirku untuk papa yang dulu sempat
kuragukan kasih sayangnya.
Papa selalu sibuk dengan
pekerjaannya. Dulu aku selalu marah kalau papa tak punya waktu untukku. Rasa
marahku, aku lampiaskan pada harta. Uang saku, aku habiskan untuk membeli
barang-barang mahal dan tak berguna. Aku tak peduli kalau papa marah, karna
bagiku amarah papa yang tak sayang padaku tak berarti. Ku bersikap
kekanak-kanakan, apa yang aku mau harus papa turuti. Bila tidak, aku akan
menangis seharian hanya untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya juga tak
berguna untukku.
Kini aku telah beranjak
dewasa dan aku mulai sadar bahwa kasih sayang papa sangatlah besar buatku.
Apapun yang papa lakukan itu semua untuk kebahagiaanku. Bahkan papa seakan tak
memperdulikan rasa lelahnya hanya untuk membuatku senang.
Mama... papa... maafkan aku.
Maafkan keegoisanku. Maafkan aku yang tak tahu besarnya rasa kasih sayang
kalian. Maafkan aku yang belum bisa membalas pengorbanan yang kalian berikan
padaku. Namun aku akan berusaha. Berusaha untuk bisa membahagiakan kalian, kini
dan esok dihari tua kalian. Aku menyayangi kalian. Dulu, sekarang, besok, dan
selamanya. Aku tak akan pernah melupakan kalian. Kalian adalah cahaya pelita
dalam hidupku.
Tiba-tiba nenek masuk ke
kamarku. Nenek heran melihat mataku yang memerah. Akhirnya nenek bertanya “Kamu
ngapain?”
“Nangis, nek.” jawabku sedih.
“Nangis kenapa?” tanya nenek
khawatir.
“Karna cerpen. Niar lagi
bikin cerpen nek. Biasalah tugas sekolah.” jawabku sambil menyeka air mata.
Nenek hanya tertawa
melihatku. Mungkin dibenak nenek aku masih seperti anak kecil yang mudah menangis
karna hal sepeleh. Tapi sebenernya.... ya bener juga sih. Aku memang dari dulu
hingga sekarang mudah nangis karna hal sepeleh. Hahaha.... eits...!! tapi kalau
sekarang aku menangis itu bukannya karna aku cengeng. Tapi karna aku adalah
seorang perempuan sejati, yang memiliki hati yang lembut. Jadi aku mudah
simpati pada sesuatu dan apapun yang menyedihkan. Maklumlah cewek... hehehe...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar