Minggu, 13 April 2014

Terlupakan...


Oleh Romaniar Rudiawaty Purnawan
            Malam ini aku sedang bingung. Aku memiliki tugas dari guruku untuk membuat cerpen. Dan aku berencana untuk ku selesaikan malam ini juga dan akan aku serahkan besok pagi. Tujuannya sih ya hanya untuk mendapatkan nilai lebih saja. Karna aku sering membuat cerpen, jadi aku tidak terlalu mempermasalahkan apa bila aku buat hanya satu malam saja. Namun, yang jadi kendalanya, aku kalau membuat cerpen itu selalu menggunakan pengalaman orang lain atau khayalanku saja. Sedangkan tugasku kini, aku diharuskan membuat cerpen dari pengalaman pribadiku sendiri.
            Ok fine... dari pada bingung mau nulis apa jadi aku ngacak-acak laciku untuk mencari inspirasi sebagai bahan tulisku. Lagi seriusnya ngacak-acak tiba-tiba mama masuk ke kamar sambil membawa tumpukkan pakaian.
            “Lagi ngapain?” tanya mama. “Oh, lagi nata laci? Baguslah...” lanjutnya.
            Aku hanya diam sambil tersenyum. Soalnya aku enggak berniat untuk menata laci, mangkannya aku enggak jawab. Hehehe...
            “Bisa tolong lipatkan baju-baju ini? Lalu nanti taruh di lemari.” pinta mama sambil menaruh tumpukan pakaian diatas kasur.
            “Iya ma.” jawabku singkat sambil memulai melipat pakaian.
            Waktuku tersita untuk melipat pakaian dan menaruh pakaian-pakaian itu kedalam lemari. Setelah semua beres aku melanjutkan mengacak-acak laciku. Aku milihat ada tumpukan rapor, ijasah, sertifikat, piagam, dan buku kenanganku dulu.
Kalau dilihat-lihat, aku punya banyak sekali sertifikat dan piagam. Tapi aku kok merasa belum puas ya? Aku merasa itu semua belum cukup. Aku masih ingin menambah itu semua. Dan aku ingin lebih baik dari sekarang. Insya allah, semua bisa kucapai dengan usahaku yang sungguh-sungguh. Aku jadi teringat saat dulu aku berusaha sendiri ataupun dengan teman-temanku untuk mendapatkan piagam-piagamku itu. Tidak jarang aku mengorbankan waktu bermainku untuk berlatih. Melupakan rasa laparku demi menghafalkan suatau gerakan karate, sebuah naskah drama, ataupun yang lain. Dan mengurangi waktu tidurku.
            Yang ada di pikiranku saat itu hanya satu. “Aku harus bisa! Menag atau kalah itu tak jadi masalah. Yang terpenting adalah aku telah berani berusaha dan mencoba dengan seluruh kemampuanku. Tak ada kata lelah. Tak ada kata istirahat. Dan tak ada kata bermanja-manja.” Ungkapku selalu sebelum akan bertanding karate, mengikuti lomba teater, lomba pramuka, dan lomba-lomba yang lain. Bagiku ‘Tak ada yang tak mungkin. Selama aku mau berusaha dengan seluruh kemampuan yang aku miliki’.
            Papaku adalah seorang pelatih karate. Bisa dibilang selain menjadi orang tua, papa juga menjadi guru karateku yang biasa dipanggil dengan shensei. Papa pernah berkata “Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda”. Aku selalu mengingat kalimat itu. Dan aku percaya, bahwa apabila aku kalah sekarang, aku akan bisa menang keesokan harinya. semua akan mungkin, apa bila aku mau instropeksi diri dan merubah kelemahanku menjadi kelebihanku.
            Setelah aku mengacak-acak laci, aku menemukan sebuah lembaran. Lembaran itu berisikan sebuah puisi. Puisi yang menyayat hatiku. Entah sejak kapan puisi itu berada di laciku. Puisi itu berjudul  “Disaat Daku Tua...”. aku membaca puisi itu dengan perlahan. huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat demi kalimat.



Disaat Daku Tua...

Disaat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu.
Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.

Disaat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku,
Disaat daku tidak lagi mengingat cara mengikat tali sepatu,
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu,
Membimbingmu untuk melakukannya.

Disaat daku dengan pikunnya mengulang
terus menerus ucapan yang membosankanmu,
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku,
Dimasa kecilmu. Daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah daku ceritakan ribuan kali, hingga dirimu terbuai dalam mimpi.

Disaat daku membutuhkanmu untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkanku. Ingatlah dimasa kecilmu,
Bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?

Disaat daku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
Janganlah menertawaiku.
Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab
setiap “mengapa” yang engkau ajukan disaat itu.

Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku.
Bagaikan dimasa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.

Disaat daku melupakan topik pembicaraan kita,
Barilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya.
Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku. Asalkan engkau berada disisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.

Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih.
Maklumilah diriku, dukunglah daku,
Bagaikandaku terhadapmu disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.

Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini.
Kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupku.
Berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu,
Daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur.
Di dalam senyumku ini, tertanam kasih yang tak terhingga padamu.

            Air mataku menetes sedikit demi sedikit membasahi pipi. Aku teringat dengan mama dan papa yang dengan susah payah membesarkanku, mendidikku, merawatku, menjagaku hingga aku menjadi seperti sekarang. Aku seolah telah melupakan semua jasa mereka padaku. Rasa terimakasih yang harusnya mereka dapatkan dariku malah aku lupakan. Tak ada kata terimakasih yang keluar dari mulutku. Apa lagi kata maaf.

Aku tinggal bersama mereka, sejakku masih kecil hingga sekarang ku beranjak dewasa.  Ya Allah... durhakanya diriku yang telah melupakan jasa kedua orang tuaku. Tak ada kata terimakasih yang keluar dari mulutku untuk kebaikan dan pengorbanan mama, yang mati-matian mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan aku. Tak ada kata maaf yang terucap dari bibirku untuk papa yang dulu sempat kuragukan kasih sayangnya.
Papa selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dulu aku selalu marah kalau papa tak punya waktu untukku. Rasa marahku, aku lampiaskan pada harta. Uang saku, aku habiskan untuk membeli barang-barang mahal dan tak berguna. Aku tak peduli kalau papa marah, karna bagiku amarah papa yang tak sayang padaku tak berarti. Ku bersikap kekanak-kanakan, apa yang aku mau harus papa turuti. Bila tidak, aku akan menangis seharian hanya untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya juga tak berguna untukku.
Kini aku telah beranjak dewasa dan aku mulai sadar bahwa kasih sayang papa sangatlah besar buatku. Apapun yang papa lakukan itu semua untuk kebahagiaanku. Bahkan papa seakan tak memperdulikan rasa lelahnya hanya untuk membuatku senang.

Mama... papa... maafkan aku. Maafkan keegoisanku. Maafkan aku yang tak tahu besarnya rasa kasih sayang kalian. Maafkan aku yang belum bisa membalas pengorbanan yang kalian berikan padaku. Namun aku akan berusaha. Berusaha untuk bisa membahagiakan kalian, kini dan esok dihari tua kalian. Aku menyayangi kalian. Dulu, sekarang, besok, dan selamanya. Aku tak akan pernah melupakan kalian. Kalian adalah cahaya pelita dalam hidupku.
Tiba-tiba nenek masuk ke kamarku. Nenek heran melihat mataku yang memerah. Akhirnya nenek bertanya “Kamu ngapain?”
“Nangis, nek.” jawabku sedih.
“Nangis kenapa?” tanya nenek khawatir.
“Karna cerpen. Niar lagi bikin cerpen nek. Biasalah tugas sekolah.” jawabku sambil menyeka air mata.
Nenek hanya tertawa melihatku. Mungkin dibenak nenek aku masih seperti anak kecil yang mudah menangis karna hal sepeleh. Tapi sebenernya.... ya bener juga sih. Aku memang dari dulu hingga sekarang mudah nangis karna hal sepeleh. Hahaha.... eits...!! tapi kalau sekarang aku menangis itu bukannya karna aku cengeng. Tapi karna aku adalah seorang perempuan sejati, yang memiliki hati yang lembut. Jadi aku mudah simpati pada sesuatu dan apapun yang menyedihkan. Maklumlah cewek... hehehe...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar