Minggu, 28 Juli 2013

Perfect Class Leader #03 – Masalah Besar Seorang Model






          Hari ini ada fashion show pakaian baru yang akan di keluarkan. Terlihat para model berjalan dengan anggun di atas cat walk dan mengenakan berbagai macam model pakaian kimono. Tapi ada satu dari model-model itu yang tiba-tiba pingsan saat memamerkan pakaian yang ia kenakan.
          Di ruang tunggu para model.
          “Sena, sudah saya bilang berulan kali kamu jangan melihat ke kamera!” bentak menejer pada Sena, sang model.
          “Maafkan saya.” kata Sena dengan sedih.
          Sena adalah seorang model. Sudah 1 tahun dia terjun ke dunia modeling. Tapi dia memiliki sebuah kelemahan. Dia selalu pingsan setiap melihat kamera. Kelemahannya ini lah yang membuat dia sedikit mendapatkan tawaran menjadi model majalah atau yang lain.
          “Tenanglah, bos. Mungkin dia perlu belajar untuk membiasakan diri.” ujar Riki menenangkan menejernya.
          Riki adalah model profesional. Dia satu agency dengan Sena. Tapi beda jauh dengan Sena. Riki terlihat sangat berkharisma dan menatap langsung ke arah kamera. Jadi wajar saja kalau Riki selalu mendapat banyak tawaran kerja. Riki adalah lelaki yang disukai Sena.
          “Ya sudahlah.” kata Menejer mengalah. “Untuk hari ini terimakasih atas kerja keras kalian.” sambung menejer mengakhiri. Dan semua model pun pulang.
          “Sena!” panggil menajer saat berada di koridor mengejar Sena yang mau pulang. “Bisa ikut saya sebentar?” tanya menejer sambil berjalan menuju suatu ruangan dan Sena pun mengikutinya.
          Saat didalam ruangan tersebut menejer memberikan sebuah brosur pada Sena.
          “Kamu harus bisa memenangkan audisi tersebut. Model prianya pasti Riki. Mereka sedang mencari model wanitanya. Kalau kamu tidak bisa lolos dalam audisi itu maka dengan terpaksa kamu akan di pecat dari agency.” kata menejer tegas.

***

          Keesokan harinya di sekolah.
          “Sena, kamu kenapa?” tanya Tika. Tika adalah teman baik Sena.
          Sena tidak mengubris pertanyaan Tika. Tubuhnya kelelahan. Kemarin dia pulang larut malam. Karena tempat fashion shownya di luar kota dan juga acaranya berakhir pukul 22.00 pula. Jadi dia kurang tidur.
          “Sena, kamu kenapa?” tanya Mimi khawatir. Mimi adalah seorang ketua kelas yang kharismatik.
          “Ketua kelas, apa ketua punya waktu setelah pulang sekolah nanti?” tanya Sena lemas.
          “Iya.” jawab Mimi sambil tersenyum manis.
          “Temani aku minum teh ya!” pinta Sena semangat.
          “Hei! Aku tidak kau ajak?” tanya Tika kesal.
          “Bukankah  hari ini kau ada piket?” tanya Sena.
          “I... iya sih. Tapikan...” jawab Tika.
          “Kalau kamu bolos piket nanti di hakimi anak-anak satu kelas loh!” kata Sena mengancam.
          “Ih... iya-iya. Dasar kau ini Sena, bilang saja enggak mau nraktir aku!” kata Tika kesal.
          Semua yang mendengar perkataan Tika pada tertawa. Seperti biasa, Tika selalu menggembungkan pipinya saat sedang kesal. Itu membuat dia tampak lucu dan membuat orang yang melihatnya ingin tertawa.

***

          Sepulang sekolah Sena mengajak Mimi minum teh di cafe dekat sekolah.
          “Ketua kelas, apa aku ini bodoh?” tanya Sena sambil menundukkan kepalanya.
          “Apa maksud kamu?” tanya Mimi bingung.
          “Aku ini seorang model. Tapi aku malah pingsan kalau lihat kamera.” jawab Sena sedih.
          “Jangan sedih, Sena. Kamu jangan menganggap kamera sebagai kamera!” kata Mimi sambil tersenyum manis.
          “Maksudnya?” tanya Sena bingung.
          “Saat di depan kamera, kamu jangan mengaggap kamera adalah kamera. Anggap saja itu kotak kejutan yang isinya badut. Sebelum kamu bergaya di depan kamera coba kamu tutup mata kamu dan baca sebuah mantra setelah itu kamu buka mata kamu dan bayangkan orang yang kamu sukai ada di depan kamu.” jelas Mimi.
          “Mantra apa ketua kelas?” tanya Sena bersemangat.
          “Mimi Tenar.” jawab Mimi sambil tersenyum manis.
          “Ketua tidak bercandakan?” tanya Sena merasa dibodohi oleh Mimi.
          “Tentu saja tidak! Saat kau bilang ‘Mimi’ ujung-ujung bibir harus diangkat keatas mungkin. Cobalah!” jawab Mimi sambil tersenyum manis.

***

          Setelah mentraktir Mimi, Sena pulang ke rumah dan bergegas masuk ke kamar. Dia mempersiapkan berbagaimacam model baju dan kamera. Dia mencoba untuk mengikuti saran Mimi. Dia berusaha dengan keras, karena besok audisinya akan di mulai.

***

          Keesokan harinya di tempat audisi.
          “Aduh, pesertanya banyak banget.” kata Sena dengan nada pelan. Dia merasa gerogi. Hingga akhirnya namanya di panggil dan dia memasuki ruangan pemotretan.
          ‘Riki menjadi salah satu jurinya.’ kata Sena dari dalam hati.
          Saat di depan kamera, dia menutup mata lalu membaca mantra dari Mimi di dalam hati.
          “Apa yang dia lakukan? Membuang waktu saja!” kata seorang juri kesal.
          “Sabarlah, tunggulah sebentar lagi.” kata Riki menenangkan.
          Beberapa saat kemudian Sena sudah merasa lebih tenang. Perlahan dia membuka matanya dan membayangkan seseorang yang dia sukai ada di depannya. Dan dia menganggap kamera menjadi kota kejutan yang lucu. Dan akhirnya dia berhasil menutupi kelemahannya dan menjadikannya menjadi kelebihan. Senyumnya sangat manis. Dia bergaya dengan bebas di depan kamera. Semua juri pada terpesona dengan senyum Sena yang manis tidak terkecuali Riki.

***

          1 minggu kemudian. Hasil audisi telah diumumkan.
          “Benarkah?” tanya Sena tak percaya.
          “Iya. Kamu lolos dalam audisi.” jawab menejer dengan senang.
          “Selamat ya Sena!” kata Riki sambil tersenyum manis.
          “I... iya.” Jawab Sena malu-malu.
          “Saat melihat senyummu kemarin aku sampai terpesona loh.” puji Riki.
          Sena yang mendengar pujian Riki sangat senang. Wajahnya memerah karena malu. Sena tidak melupakan jasa Mimi. Dia dengan hati kembira menelepon Mimi. Dia memngabarkan keberhasilannya pada Mimi dan mengucapkan terimakasih atas nasihat yang telah Mimi berikan.
          Acara pemotretan berjalan selama 1 minggu berturut-turut.
          “Sena. Apa kamu tidak lelah? Istirahatlah sejenak.” tanya photografer.
          “Tidak. Ayo kita lanjutkan!” jawab Sena sambil tersenyum manis.
          Sena bekerja dengan keras. Dia selalu tersenyum dan ceria. Padahal semua orang tau kalau Sena lah yang paling lelah. Tapi Sena menutupi itu semua dengan senyum manisnya.
          “Sena bekerja dengan sangat keras, ya.” kata seorang staff.
          “Iya. Sepertinya ini pertama kali buatnya. Apa dia tidak apa? Dia terlihat sangat kelelahan.” kata staff satu lagi.
          Riki mendengar pembicaraan kedua staff tersebut. Lalu dia pergi melihat pemotretan. Tapi ternyata sedang jam istirahat.
          “Dimana Sena?” tanya Riki pada seorang staff.
          “Dia sedang istirahat di bangku taman sana.” Jawab staff tersebut.
          Lalu Riki berjalan menuju Sena.
          “Sen...” kata Riki ingin menyapa tapi ternyata dia melihat Sena yang sedang tertidur sambil duduk. “Dia tidur?” tanya Riki sambil tersenyum manis.
          Tiba-tiba Sena tumbang. Dengan cepat Riki duduk di samping Sena.
          “Untung saja keburu.” kata Riki.
          Riki memperhatikan Sena yang sedang tidur. Tanpa sadar Riki terpesona untuk kedua kalinya pada Sena. Dengan perlahan dia mendekat pada Sena dan mincium Sena.
          Dari kejauhan terlihat seorang wartawan yang sedang memotret Riki yang sedang mencium Sena saat Sena sedang tertidur.

***

          Keesokan harinya muncul sebuah gosip tentang hubungan model profesional, Riki dengan seorang model perempuan dari satu agency. Gosip itu terdengar di telinga menejer mereka.
          “Sena. Kau sudah mendengar gosip terbaru saat ini?” tanya menejer.
          “Sudah. Tapi itu hanyalah salah paham.” jawab Sena tegas. Dia tidak merasa melakukan itu. Tentu saja tidak merasa, kan Riki nyiumnya saat Sena tidur. Hehehe...
          “Gosip ini sudah tersebar. Kami tidak mau ambil resiko. Riki sudah memiliki pamor yang tinggi terlebih dahulu. Maka kami putuskan untuk mempertahankannya. Sena, untuk pemotretan 3 hari berikutnya sepertinya kamu tidak perlu datang.” kata menejer dengan tegas.
          Sena sangat kecewa mendengarnya. Tapi mau bagaiana lagi, dia tidak mungkin menurunkan pamor Riki karna ke egoisannya. Dia hanya bisa diam dan menerima itu semua.

***

          Hari berikutnya. Sena tetap didalam rumah. Dia tidak di perbolehkan datang ke pemotretan. Terlihat Sena sedang menangis di dalam kamarnya. Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Sena pintu rumah dengan lemas.
          “Hai!” sapa Riki.
          “Riki? Kenapa kamu kesini? Pemotretannya...” kata Sena heran. Namun, belum sampai selasai dia berbicara tiba-tiba Riki memeluknya.
          “Kalau kamu tidak ada maka aku tidak mau.” kata Riki saat memeluk Sena. “Ayo cepat, semua sudah menunggu!” ajak Riki sambil menggenggam tangan Sena.
          “Tapi, aku tidak boleh ke tempat pemotretan.” kata Sena sedih.
          “Aku sudah minta izin ke menejer. Ayo cepat!” ajak Riki buru-buru.
          “Benarkah? Baiklah.” jawab Sena senang.

***

          Di tempat pemotretan.
          “Apa benar aku boleh ikut pemotretan lagi?” tanya Sena.
          “Mau bagaimana lagi. kalau kamu tidak ikut, Riki juga tidak mau.” jawab menejer.
          “Iya. Kami juga tidak rela kalau kau berhenti begitu saja.” kata salah satu staff.
          “Benar. Sena kan sudah bekerja dengan keras.” timpal staff yang lain.
          “Ok. Mari kita mulai pemotretan untuk hari ini.” Kata photografer.
          Akhirnya pemotretan berjalan dengan lancar. Setelah pemotretan hari ini Riki mengantar Sena pulang. Sesampainya di depan rumah Sena.
          “Terimakasih banyak untuk hari ini.” kata Sena.
          “Enggak masalah.” jawab Riki.
          “Riki... aku heran deh. Kenapa bisa ada gosip seperti itu.” kata Sena.
          “Gosip apa?” tanya Riki sambil tersenyum.
          “Entahlah. Gosip tentang aku dan kamu. Tapi aku bingun, bagaimana bisa mereka mendapat foto itu.” kata Sena yang bingung.
          Tiba-tiba Riki mendekat pada Sena.
          “Maaf ya. Itu semua salahku. Lain kali aku akan menciummu saat bangun saja.” kata Riki lalu tersenyum.
          Muka Sena menjadi merah karena malu. Lalu dia pingsan.
          Sena berhasil menutupi kelemahannya yang pingsan setiap melihat kamera. Tapi sepertinya sekarang dia memiliki kelemahan yang baru. Hehehe...

SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar