Minggu, 28 Juli 2013

Perfect Class Leader #02 – Wangi Cinta Keren






            Perkenalkan namaku Keren. Aku adalah ketua klub Pakimura. Aku cantik dan di puja olah semua orang. Namun, ada sebuah rahasia besar yang aku sembunyikan selama ini. Aku tidak tahu harus menceritakannya dengan siapa dan siapa yang bisa memberikan solusi atas rasahasiaku ini. Suatu hari aku berpikir untuk menceritakan rahasiaku ini pada seseorang. Aku berharap dia dapat memberikan solusi untukku. Di adalah ketua kelas X-A, namanya Mimi. Di berhasil merubah Sasmita yang preman menjadi gadis yang manis dan berkharisma. Aku yakin, Mimi bisa membantuku juga.

***

            Bel sekolah berbunyi. Akhirnya pelajaran berkhir dan sekarang saatnya untuk pulang. Aku berharap Mimi belum pulang. Aku ingin menemuinya sekarang di kelasnya.
            “Permisi.” kataku pelan sambil membuka pintu kelas X-A.
            “Iya.” jawab Mimi dengan senang. Sepertinya dia sedang senang. Aku bersyukur dia belum pulang.
            “Sepertinya kamu sedang senang?” tanyaku ramah.
            “Iya. Karena nanti aku akan pergi berkencan.” jawabnya senang.
            “Wah... pasti menyenangkan ya!” jawabku lesu. Aku iri sekali dengan Mimi.
            “Keren, kamu kenapa?” tanyanya khawatir.
            “Tidak apa. Aku hanya merasa iri saja pada dirimu.” jawabku.
            “Iri? Bagaimana bisa? Kamukan cantik. Dan kamu adalah ketua klub Pakimura. Bagaimana bisa kamu iri padaku?” tanyanya bertubi. Dia seakan tak percaya kalau aku iri padanya.
            “Apa aku bisa mempercayakan rahasiaku ini padamu?” tanyaku berharap.
            “Tentu saja.” Jawabnya tegas.
            “Aku yang memimpin klup Pakimura malah tidak populer. Aku tidak bisa mengatakannya pada siapapun.” Kataku sambil menundukkan kepala.
            “Keren pasti bercanda, kan! Aku dengar banyak sekali cowok yang ‘menembak’ anggota Pakimura...” kata Mimi yang masih belum percaya dengan pengakuanku.
            “Tidak, aku serius!” selaku reflek. “Buktinya selama 17 tahun ini aku belum pernah sekali pun mendapat pengakuan cinta dari seorang cowok.” Kataku sambil menundukkan kepala karna aku merasa malu. “Semua orang memang mengagumi kecantikaku, tapi tidak ada yang menganggapku sebagai gadis yang bisa diajak menjalin kisah cinta.” jelasku sedih. “Pasti ada yang kurang dariku sebagai seorang permpuan.” Kataku sedih.
            “Jangan-jangan Keren sedang jatuh cinta ya?” tanyanya tepat.
            Iya. Aku memang sedang jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada Seto. Dia teman masa kecil. Dia lebih mudah dariku. Aku ingin menyatakan cintaku padanya. Tapi aku takut, karena dia hanya menganggapku sebagai kakak.
            “Kumohon Mimi! Ajari aku menutupi apa yang kurang darikusebagai perempuan!” mohonku padanya.
            “Baiklah. Akan aku bantu.” jawabnya sambil tersenyum manis. Jawaban Mimi itu membuatku tenang.
           
***

            Keesokan harinya aku dan Seto di ajak Mimi untuk nonto di bioskop.
            “Maaf, Mimi kalau aku sudah merusah kencan kamu dengan Dellon.” kataku menyesal.
            “Tak apa. Aku bisa kencan lagi sama Dellon kapan pun kami mau.” jawabnya sambil tersenyum. Syukurlah kalau aku tidak mengganggu Mimi dan Dellon.
            “Keren, temani aku ke toilet sebentar dong!” pinta Mimi.
            “Iya.” jawabku sambil tersenyum.
            Aku merasa sedang diperhatikan. Saat aku menoleh kearah Seto. Ternyata benar Seto lah yang memperhatikanku. Aku merasa senang sekali saat tau dia memperhatikanku.
            Sesampainya kami di toilet. Mimi tidak ingin buang air kecil atau cuci tangan. Dia langsung membuka tasnya dan mengeluarkan sebotol parfum.
            “Nah, mari kita ubah suasana hati! Sekarang saatnya kamu tampil Keren!” kata Mimi sambil menunjukkan sebotol parfum padaku.
            "Gedung bioskop adalah tempat gelap dimana kita bisa berada di sisi orang yang kita sukai dalam waktu lama. Di saat seperti itu 'wewangian' bisa menambah daya tarik kita!" katanya sambil tersenyum.
                 “Bukankah parfum tidak cocok bagi kita yang masih pelajar?” tanyaku bingung.
                "Kalau dipakai dengan benar, parfum akan menarik daya tarik gadis, loh." jawabnya.
 “Dipakai dengan benar?” tanyaku yag masih bingug. 
                "Ya. Pakailah wewangian dari bawah ke atas. Mulai dari lipatan lutut dan bawah kaki, beri parfum secukupnya. Pakai sedikit saja, jangan berlebihan! Dan semprot parfum di pergelangan tangan. Secukupnya saja, lalu gosokkan dengan pergelangan tangan sebelahnya." katanya sambil menjelaskan cara memakai parfum.
 “Parfum beraroma mawar memberikan kesan dewasa. Kalau wangi lemon dan grapefruit, menghadirkn suasana sportif dan ceria. Dan hari ini sudah kupilihkan aroma floral yang manis untuk Keren. Keren adalah gadis yang sangat cantik, tapi terlalu sempurna dan tidak pernah bergantung pada cowok, kan?” kata Mimi sambil memakaikan parfum beraroma floral kepadaku.
 “Yang kurang dari Keren adalah ‘perasaan untuk bermanja’.” sambungnya.
 “Tapi... aku malu kalau harus bermanja pada Seto yang lebih muda...” kataku pelan.
 “Tidak perlu malu untuk bermanja. Kau bisa mengandalkan wewangian ini untuk bersikap lebih tulus.” Kata Mimi menasihatiku.
 “Baiklah aku akan berjuang!” kataku semangat. Aku yakin aku bisa.
 “Gadis memang harus bersemangat!” katanya sambil tersenyum manis.
 Setelah itu aku keluar dari toilet. Mimi bilang kalau dia masih ada urusan di toilet. Entah urusan apa. Saat aku keluar dari toilet aku mendengar ada yang memanggilku. Suara itu tak asing bagiku. Itu suara Seto.
 “Keren!” panggil Seto.
 “Seto? Ada apa?” tanyaku.
 “Kenapa kau lama sekali di dalam toilet? Aku pikir ada sesuatu yang terjadi.” Katanya sambil mendekat padaku.
 Aku sangat senang di mengkhawatirkanku. Tanpa aku sadari mukaku memerah dan aku menundukkan kepala karena malu.
 “Sini biar aku bawakan tasmu. Sepertinya berat.” katanya sambil mengambil tasku dari tanganku.
Aku ingin bilang ‘Tidak apa. Aku baik-baik saja.’ Tapi sebelum akumengatakannya aku  mencium wangi floral yang manis dan menenangkan sehingga aku teringat kata Mimi kalau aku harus lebih jujur.
 “Terimakasih.” jawabku senang.
 “Sudah lama aku ingin jadi kesatria Keren. Aku senang Keren mau minta bantuanku.” katanya sambil tersenyum.
 “Keren... dulu setiap kali aku ditindas, kau pasti melindungiku seperti seorang kakak. Tapi sekang beda. Kali ini aku yang akan menjaga Keren. Itu sebabnya, bisakah kita meningkat dari ‘teman masa kecil’ jadi ‘kekasih’? Keren...  sebetulnya  kurasa masih terlalu cepat untuk berkata seperti ini. Tapi hari ini Keren bermanja padaku, kan? Itu sebabnya aku senang sekali. Bisakah aku jadi ksatriamu, Keren?” kata Seto padaku. Di berkata seolah bioskop ini milik kita berdua. Searanya memang pelan. Tapi kata-katanya sangat menyentuh dihatiku.
 “Tidak. Seto bukan kesatriaku, tapi satu-satunya pangeranku.” jawabku sambil tersenyum manis. Dan Seto pun memelukku. Dia seolah tak peduli dengan keadaan sekeliling kami. Semua orang melihat kearah kami. Awalnya aku merasa malu dan ingin melepas pelukaanya. Tapi Seto semakin erat memelukku dan berkata “Keren, aku mencintaimu” di berkata dengan nada yang lembut membuatku ingin memeluknya juga. Akhirnya kami berpelukan di depan banyak orang.
 Inilah pengakuan cinta pertama kali dalam hidupku. Aroma parfum yang manis ini akan selalu aku kenang.

Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar