Minggu, 28 Juli 2013

Perfect Class Leader #01 - Preman juga ingin punya cinta






            Di kelas X-A terkenal dengan julukan kelas terfavorit. Apa lagi di kelas tersebut memiliki ketua kelas yang sempurna. Ketua kelas X-A adalah seorang perempuan. Dia adalah salah satu siswi teladan di sekolah. Berbagai macam kejuaraan yang telah ia menangkan. Mulai dari lomba-lomba akademik seperti lomba sains, matematika, dan pidato bahasa inggris tingkat sekolah, kabupaten, hingga nasional. Dia juga berhasil memenangkan lomba-lomba non akademik seperti olah raga beladiri karate, voli, dan basket. Ketua kelas X-A bukan hanya cerdas dan berprestasi. Namun juga cantik dan berkharisma. Dia adalah primadona sekolah terutama bagi kelas X-A. Dia bernama Mimi.
            “Selamat pagi ketua kelas!” sapa Sasmita dengan semangat. Sasmita adalah salah satu siswi kelas X-A yang ceria. Dia mendapat julukan sang preman X-A.
            “Selamat pagi.” jawab ketua kelas sambil tersenyum manis.
            “Selamat pagi ketua kelas.” sapa siswa siswi X-A bergantian sambil tersenyum pada Mimi.
            “Selamat pagi semuanya.” jawab Mimi ceria.
            “Seperti biasa, ketua kelas selalu ceria.” kata Dellon. Dellon adalah seorang atlit di kelas X-A. Dia sering menjuarai lomba lari jarak jauh mau pun jarak pendek. Nilai akademiknya juga bagus. Fisiknya juga keren. Dia salah satu cowok populer di sekolah.
            “Iya. Keceriaan ketua kelas membuat hatiku bahagia.” timpal Riko. Riko adalah siswa yang usil di kelas X-A. Walau pun usil namun nilai akademiknya tidak perlu di ragukan. Fisik Riko tidak kalah keren dengan Dellon. Dia juga salah satu cowok populer di sekolah.
            “Ketua kelas! Coba lihat ini! Aku tadi sudah meminta maaf pada Erno lalu dia meminjamiku buku ini. Buku ini sangat menarik loh.” kata Sasmita gembira.
            “Erno? Siapa ?” tanya Riko heran.
            “Oh... siswa yang bertugas menjaga perpustakaan itu ya?” timpal Dellon.
            “Tepat sekali.” jawab Sasmita gembira.
            “Hei! Ayo cepat duduk di bangku kalian masing-masing. Sebentar lagi pelajaran pertama akan dimulai!” perintah Ketua kelas dengan nada tenang.
            Semua siswa dan siswi X-A pun menurut dan duduk di bangku masing-masing menunggu kedatangan guru untuk memulai pelajaran pertama. Kegiatan belajar mengajar di kelas X-A berjalan dengan baik hingga jam istirahat tiba.
            “Baik anak-anak. Tugas kalian adalah mengerjakan soal-soal halaman 70 hingga 72. Lusa harus sudah terkumpul di meja ibu. Kalian mengerti semua?” tanya Bu Prety. Guru matematika kelas X.
            “Mengerti bu.” jawab serentak siswa siswi X-A.
            Lalu Bu Prety pergi meninggalkan kelas X-A. Karena sudah jam istirahat.
            “Huh. Akhirnya selesai juga. Matematika terlalu membosankan buatku!” keluh Sasmita.
            “Dasar kau ini! Matematika itu penting buat kehidupan kita. Kau saja yang pemalas!” kata Dellon.
           “Aku itu bukan kamu. Kamu pandai dalam pelajaran matematika, sedangkan aku... ” bela Sasmita. Belum selesai dia berkata dia sudah menghela nafas panjang terlebih dahulu.
            “Walau pun Dellon pandai dalam pelajaran matematika. Tapi tetap saja dia kalah pandai dengan ketua kelas kita.” kata Riko sambil memeluk Mimi.
            “Hei!!” teriak Sasmita mengejutkan semua siswa siswi X-A. “Berani sekali kamu memeluk ketua kelas!” bentak Sasmita ke Riko. Membuat semua siswa-siswi X-A menatap tajam ke arah Riko.
            Riko melihat sekeliling. Dia merasa risih dengan tatapan teman-teman satu kelas. Dengan cepat dia melepaskan pelukannya pada ketua kelas.
            “Hey guys! Aku kan hanya bercanda.” kata Riko sambil tersenyum membela diri lalu pergi meninggalkan kelas X-A.
            Saat Riko berjalan meninggalkan kelas pun dia masih di perhatikan semua siswa siswi X-A dengan tatapan yang tajam hingga dia benar-benar sudah keluar kelas.
            “Dasar Riko bodoh! Berani sekali dia menyentuh ketua kelas seperti itu.” kata Sasmita jengkel.
            “Iya. Dia tidak berhak menyentuh ketua kelas seperti itu!” timpal Sena. Salah satu siswi X-A.
            “Ketua kelaskan milik kita semua.” timpal Tika. Salah satu siswi X-A. “Iyakan ketua kelas?” tanya Tika pada Mimi.
            “Iya.” jawab Mimi sambil tersenyum manis.
            “Hemm... ribut sekali disini.” kata Keren. Keren adalah ketua klub Pakimura. Yaitu perkumpulan siswi manis dan populer di sekolah. Wajahnya cantik sekali. Tubuhnya ideal, cara bicaranya sopan dan tenang. Dia juga termasuk siswi yang pandai dalam pelajaran akademik mau pun non akademik.
            “Hai Sasmita!” sapa Raia. Salah satu anggota Pakimura. Anggota Pakimura yang berkharisma. Selalu menebarkan senyuman yang manis dan selalu terlihat anggun saat berjalan mau pun berkata.
            “Kau tidak lupa dengan syarat yang kami berikan bukan?” tanya Seto. Seto adalah wakil ketua klub Pakimura. Seto adalah satu-satunya siswa yang berada di klub pakimura. Bukannya dia seperti perempuan. Hanya saja dia gabung ke klub Pakimura untuk mengejar seseorang. Seto adalah salah satu cowok populer di sekolah. Wajahnya rupawan, tubuhnya ideal, nilai akademiknya bagus dan dia populer di kalangan para siswi di sekolah.
            “Syarat apa?” tanya Dellon bingung.
            “Syarat untuk menjadi anggota klub Pakimura.” jawab Keren.
            “Tenang saja. Aku tidak lupa kok! Aku juga sedang berusaha untuk memenuhi syaratmu, Keren.” jawab Sasmita dengan semangat.
            “Baguslah kalau begitu. Aku tunggu satu bulan lagi.” kata Keren sambil tersenyum.
            “Sebentar lagi sudah mau bel masuk.” kata Seto.
            Lalu Keren berjalan keluar kelas X-A dan diikuti oleh Seto dan Raia.
            “Bagaimana ini ketua kelas? Tolong aku!” kata Sasmita meminta bantuan pada Mimi.
            “Tenang saja. Kamu pasti bisa kok!” kata Mimi menenangkan Sasmita.
            “Memang syaratnya apa?” tanya Dellon yang masih bingung.
            “Syaratnya adalah Sasmita harus bisa mengundang 20 cowok ke pesta minum tehnya bulan depan.” jawab Mimi menjelaskan.
            “Ah... iya.” kata Mimi tiba-tiba. “Ayo semua duduk di bangku masing-masing. Sebentar lagi pelajaran akan di mulai kembali!” perinta Mimi pada teman-temannya di kelas X-A.
            Setelah jam sekolah berakhir Mimi pulang dengan Sasmita. Walau rumah mereka bersebrangan arah tapi Sasmita tetap saja berjalan di sebelah Mimi. Sekarang yang terpenting baginya ialah bagaimana caranya untuk merubah dirinya dari sang preman menjadi gadis yang manis.
            “Ketua kelas, apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Sasmita sambil menghela nafas panjang.
            Tiba-tiba Mimi menghentikan langkahnya lalu menghadap ke arah Sasmita. “Kita beli teh di cafe itu dulu yuk!” ajak Mimi ramah.
            “Iya.” Jawab Sasmita senang. Sasmita sangat suka minum teh.
            Sesampainya di cafe.
            “Sasmita. Mulai hari ini, rambutmu itu harus dicuci habis-habisan!” kata Mimi dengan tegas.
            “Huwah!” teriak Sasmita pelan, karena takut saat melihat raut Mimi yang serius.
           “Pertama-tama kuajari mencuci rambut dengan benar! Dengarkan baik-baik!” perintah Mimi serius.
            “Baik.” jawab Sasmita bersemangat sambil bersiap mendengarkan.
           “Rambut adalah jiwa para gadis! Jika rambut dicuci dengan cara yang benar,pasti akan jadi indah! Sebelum membasahi rambut, sikatlah rambut dengan lembut. Setelah itu basahi seluruh kepala agar kotoran terbilas. Kalau langsung menyiram kepala dengan air, nanti kulit kepala bisa luka. Saat pakai shampo, tekan-tekan kulit kepala dengan ujung jari, jangan digosok keras-keras. Sampo yang tersisa nanti bisa jadi ketombe. Setelah pakai kondisioner, bilaslah kembali sampai bersih. Jangan lupa lakukan perawatan rambut satu minggu sekali. Selesai mandi, langsung tepuk-tepuk rambut dengan handuk! Jangan keras-keras, nanti rambutmu rontuk! Ditepuk-tepuk dengan lembut, ya. Gunakan hair dryer dengan jarak 10 cm dari rambut agar akar rambut tidak kering.” kata Mimi menjelaskan. Lalu dia menarik nafas dan meminum tehnya dengan perlahan. Dia terlihat sangat anggun saat meminum teh. “Apa kau mengerti Sasmita?” tanya Mimi setelah meminum tehnya.
            “Ya. Aku mengerti.” jawab Sasmita dengan semangat.

***

            Satu bulan kemudian.






            “Siapa itu Sasmita Disa? Manis tidak?” tanya seorang siswa setelah membaca brosur undangan Sasmita.
            “Di kelas X-A sepertinya ada cewek preman yan bernama gitu.” jawab temannya yang juga sedang membaca brosur undangan Sasmita.
            “Ah, maaf. Kalau bersedia, silahkan datang ke pestaku.” kata Sasmita dengan nada sopan.
            “Kamu Sasmita?” tanya serempak kedua cowok itu dengan terkejut.
            “Sasmita ayo!” ajak Mimi yang terburu-buru. Karena acara akan segera di mulai
            “Iya.” jawab Sasmita sambil berlari mengejar Mimi.
            Saat berlari mengejar Mimi tidak sengaja Sasmita menabrak seorang siswi.
            “Ah! Maaf, kamu tidak apa?” tanya Sasmita merasa bersalah.
            “Iya...” jawab siswi tersebut yang terkejut melihat Sasmita.
            “Maaf, ya.” kata Sasmita lalu berlari mengejar Mimi.
            “Barusan itu... Sasmita?” tanya teman siswi tersebut.
            “Duh, kaget... biasanya kalau nabrak orang, dia pasti marah-marah.” kata siswi yang di tabrak Sasmita tadi.
            “Seperti orang lain saja.” Kata teman siswi yang di tabrak Sasmita tadi.

***

            Di luar ruang klub Pakimura.
            “Hai Mimi!” sapa Raia ceria.
            “Sudah ada berapa tamu di dalam?” tanya Keren pada Mimi.
            “Yah aku juga belum tau. Aku juga belum masuk ke dalam.” jawab Mimi tenang.
            “Dimana Sasmita? Apa dia kabur?” tanya Keren sambil mencari keberadaan Sasmita di sekelilingnya.
            “Maaf, membuat kalian lama menunggu.” kata Sasmita.
            Keren, Seto, dan Raia seakan tak percaya melihat Sasmita yang sekarang.
            “Mustahil... kau perempuan itu?!” tanya Raia terkejut.
            “Rambutmu halus sekali... auramu juga berbeda dengan sebelumnya!” kata Seto memuji.
            “Tapi, walau begitu belum tentu kalian yang menang.” kata Keren dengan nada yang tenang.
            “Benar. Kalau begitu mari kita masuk ke dalam!” ajak Mimi.
            Saat Mimi membuka pintu semua orang yang ada di dalam ruangan melihat ke arah mereka. Terutama ke arah Sasmita.
            “Hai, Sasmita! Minum teh bareng yuk!” ajak seorang siswa yang menghadiri Tea Party Sasmita.
            “Wah, Sasmita dulu premankan? Sekarang bisa semanis ini. Beritahu rahasianya dong!” kata seorang siswi yang menghadiri Tea Party Sasmita.
            “Sasmita, sekarang jadi manis deh. Aku jadi ingin mengenal lebih banyak tentang Sasmita.” Kata seorang siswa lainnya.
            “Iya, aku juga ingin mengenal lebih banyak tentang Sasmita.” Timpal seorang siswa lagi.
            “Bagaimana Keren? Apakah Sasmita masih belum pantas masuk klub Pakimura?” tanya Mimi dengan senang.
            “Ya... pesta ini memang dihadiri banyak orang... aku sendiri terkejut... tapi... kalau dihitung, ternyata jumlah cowok disini hanya 19 orang. Masih kurang satu dari jumlah yang dijanjikan. Sayang sekali, kalianlah yang kalah, Mimi.” jawab Keren dengan nada yang tenang.
            “Yang benar saja meski kurang seorang. Kan ini sudah cukup...” kata Dellon kesal.
            “Iya. Jangan pelit-pelit dong!” timpal Sasmita jengkel.
            “Janji adalah janji.” jawab Seto tegas.
            “Tidak apa Sasmita, aku yang kalah.” kata Mimi sambil tersenyum.
            “Ketua Kelas!” kata sasmita terkejut. “Kalau begitu, biar aku yang tanggug hukumannya menggantikan ketua ke...” sambung Sasmita. Tapi sebelum dia menyelesaikan perkataannya, dia di kejutkan dengan kedatangan seorang siswa.
            “Err... no...” kata Sasmita dengan muka memerah.
            “Maaf, aku terlambat. Apa aku masih bisa mengikuti acara ini?” tanya Erno.
            “Ya, tentu saja, penjaga perpus!” jawab Mimi senang.
            “Ke... kenapa Erno da...” tanya Sasmita. Tapi sebelum dia menyelesaikan kalimatnya Erno memberikan karangan bungan untuknya terlebih dahulu.
            “Aku ingin minum teh bersamamu... sebetulnya... aku tidak suka ikut acara seperti ini... tapi aku tidak suka saat membayangkan kamu dikelilingi cowok-cowok disini... makanya... anu, ada cafe yang aku sukai di dekat sini... kau mau minum teh berdua denganku?” ajak Erno malu-malu. “Aku tahu kau sering membolos pelajaran untuk datang ke perpustakaan. Tapi kau membaca buku-buku yang aku rekomendasi dengan senang... meski kau tidak banyak bicara, tapi kita bisa menilai kepribadian orang yang berubah dari sikapnya, kan?” jelas Erno. “Aku ingin tahu lebih banyak tentang dirimu... apa kau tidak suka, Sasmita?” tanya Erno serius.
            “Tentu saja... aku suka...” jawab Sasmita sambil menangis bahagia.
            Dengan lembut Erno menghapus air mata yang mengalir melalui pipi Sasmita sambil tersenyum senang.
            “Nah, sekarang hasilnya berbalik. Ketua kelas kamilah yang menang!” kata Dellon semangat.
            “Ah, iya baiklah. Sepertinya kami yang salah. Baiklah, Sasmita akan masuk klub kami.” kata Keren dengan nada tenang sambil tersenyum dengan manis.
            “Sepertinya tidak perlu lagi. mereka berdua sudah pergi minum teh berdua. Sebenarnya Sasmita tidak tertarik masuk klub manapun” kata Mimi senang.
            “Kalau begitu...” kata Keren.
            “Mari kita nikmati pesta tanpa pemeran utama!” timpal Mimi senang.
            Acara pun berjalan dengan meriah. Sasmita juga sudah mendapatkan cintanya. Semua berjalan dengan lancar.
            Baiklah, sampai bertemu di episode berikutnya ya!!

Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar