Hai, namaku Naeya. Aku seorang mahasiswi di Universitas Brawijaya, Malang.
Kehidupanku bisa dibilang menyenangkan. Apa lagi sejak 3 bulan yang lalu aku
mendapatkan pacar yang sangat aku idamkan. Namanya Roy. Dia seniorku. Wajahnya
rupawan dan postur tubuhnya ideal. Dia juga mahasiswa kharismatik.
“Naeya, tugas dari
Mr. Li sudah kamu kumpulkan?” tanya temanku, Deas.
“Sudah.” jawabku
singkat.
“Eh... tuh kak Roy
nungguin kamu! Beruntung banget ya kamu jadi pacarnya! Kalau kamu sudah bosan
sama dia, kasihkan ke aku aja. Aku mau nerima dengan sukarela kok. Hehehe...”
“Enak saja!”
jawabku jengkel. Sudah berapa banyak pengorbananku untuk mendapatkan kak Roy.
Mana mungkin aku melepaskannya begitu saja. Dasar Deas, seenaknya sendiri kalau
ngomong. “Yaudah, aku mau pulang duluan. Bye.” lanjutku.
***
Di luar kampus aku
melihat kak Roy yang sedang bersandar di mobil sport birunya yang keren sambil
memainkan kacamata hitamnya. Kak Roy terlihat seperti pangeran. Bener kata
Deas, aku memang beruntung. “Lama nunggu ya kak?” tanyaku.
“Enggak kok. Baru
satu jam.” jawab kak Roy sambil tersenyum manis padaku. Aduh... keren banget.
Senyumnya dalam sekejap sudah bikin aku mabuk kepayang.
“Ah kakak...”
kataku yang tersipu malu.
“Yasudah, ayo naik
tuan putri.” katanya sambil membukakan pintu mobilnya untukku.
“Terimakasih,
pangeran.”
Kak Roy selalu
memanggilku tuan putri. Aku bingung kenapa dia memanggilku begitu. Tapi apa pun
alasannya, panggilan itu berhasil membuatku bahagia. Bukan hanya panggilan
saja, kak Roy juga memperlakukanku seperti tuan putri. Awalnya aku risih dengan
sikap kak Roy. Tapi lama kelamaan aku merasa nyaman dan karena sikapnya itu
juga aku jadi selalu memikirkannya. Dia berhasil membuatku menjadi ‘Tergila-gila’
padanya.
“Kita mau kemana?”
tanyaku akhirnya setelah kami saling diam selama 5 menit.
“Pulang.” Jawabnya
ringan.
“Langsung pulang?”
“Memang tuan putri
mau kemana dulu?”
“Ah tidak... kita
langsung pulang saja.”
Sebenarnya aku
ingin sekali berjalan-jalan berdua dengan kak Roy sepulang sekolah. Tapi, kak Roy
selalu mengantarku pulang tepat waktu. Begitu juga saat berangkat, dia selalu
menjemputku tepat waktu. Kalau begini terus, ini sih bukan seperti sepasang kekasih. Tapi seperti
tuan putri dengan supirnya. Aku juga tidak berani meminta sesuatu pada kak Roy.
Takutnya, nanti dia merasa kalau aku banyak maunya, lalu dia pergi tinggalin
aku. Oh No!!
“Terimakasih.” Ucapku
setelah turun dari mobilnya.
“Iya. Nanti aku
telepon.”
“Benarkah? Aku
tunggu ya.”
“Iya. Bye.”
Aku hanya bisa
tersenyum dan melambaikan tanganku. Entah mengapa aku tidak bisa mengucapkan
kata ‘Bye’ pada kak Roy. Yah... seperti biasanya dia meneleponku, tapi hanya
sebentar saja. Dia seperti diburu waktu. Aku selalu bertanya, sebenarnya dia
itu sayang sama aku atau hanya mempermainkan aku saja sih? Masa telepon pacar
hanya 5 atau 10 menit saja. Menyebalkan!
“Naeya, kamu belum
tidur, sayang?” tanya mama yang habis mengunci pintu depan.
“Ini mau ke kamar
ma.” jawabku, lalu aku naik ke anak tangga menuju kamarku. Sesampainya aku di
kamar, handphoneku berbunyi, ada sms baru masuk.
GOOD NIHGT MY PRINCESS.
Kak Roy. Hehehe... walau dia hanya meneleponku sebentar tapi
sebenarnya dia sangat perhatian padaku. Dia adalah pacar idamanku.
***
“Good Morning My Princess.” sapa kak Roy yang sedang mengobrol
dengan mama.
“Good Morning.” jawabku senang.
“Naeya, kamu sudah siap?” tanya mama.
“Sudah. Naeya berangkat ke kampus dulu ya, ma.” jawabku.
“Kami pergi dulu, tante.” kata kak Roy pamit ke mama.
“Iya. Hati-hati di jalan.” jawab mama sambil melambaikan tangan.
‘Setiap pagi kak Roy selalu menjemputku tepat waktu. Seperti
bodyguard aja.’ gerutuku dalam
hati.
“Kamu lagi ngomongin aku ya tuan putri?”
Aduh... kok tepat banget sih pertanyaannya. Aku harus jawab apa ya?
“Oh, maaf kalau aku salah ngomong. Tuan putri sampai diam lama
gitu.”
“Eh, eng... enggak kok.” Hemm... “Kak Roy.”
“Iya tuan putri?”
“Kenapa kakak kalau nelpon hanya sebentar saja?” aduh... aku kok
ngomong gini ya? Tuh, kak Roy langsung noleh lagi. Nyesel deh.
“Maaf, tuan putri. Aku hanya takut mengganggu istirahat tuan
putri.”
“Ti... tidak kok. Aku malah seneng kalau kakak nelponnya lama.”
“Benarkah? Lain kali aku usahakan deh.”
“Beneran?”
“Iya. Apa sih yang enggak untuk tuan putri?”
Oh My God!! Kak Roy bilang gitu? Mimpi apa kau semalem? Pangeran
idamanku bilang seolah-olah akulah yang terpenting dalam hidupnya. Oh tuhan,
thank you.
“Tuan putri.”
“Ya.”
“Untuk 3 hari yang akan datang. Maaf aku tidak bisa berada
disisimu.”
“Kenapa?”
“Aku ada urusan keluar negeri.”
“Urusan apa?”
“Mamaku sekarang di Jepang dan minta aku ke sana.”
“Oh... ok. Enggak apa kok.”
“Terimakasih, tuan putri.”
Yah... 3 hari kedepan aku enggak bisa ketemu kak Roy lagi dong?
Pasti aku bakal kesepian deh. Tapi aku kan masih bisa telpon-telponan.
Yasudahlah.
***
3 hari berlalu.
‘Maaf, nomer yang anda tuju sedang sibuk.’
“Sibuk apa sih kak Roy ini?”
“Sabar dong. Palingan juga handphonenya enggak dibawa atau apalah.”
kata Deas mencoba untuk menenangkanku.
“Tapi sejak 3 hari yang lalu handphonenya selalu sibuk.”
“Udahlah, kamu tenang saja. Mungkin dia banyak kerjaan di Jepang.”
***
‘Maaf, nomer yang anda tuju sedang sibuk.’.
‘Maaf, nomer yang anda tuju sedang sibuk.’.
‘Maaf, nomer yang anda tuju sedang sibuk.’.
Aduh.. dari tadi
sibuk melulu. Kamana sih kak Roy ini? Bikin aku khawatir saja.
“Hallo?”
“Halo, kak Roy?
Kakak kemana saja sih? Dari...”
“Ini bukan Roy.”
“Eh... maaf. Ini
siapa ya?”
“Ini tante,
mamanya Roy.”
“Oh, tante. Ini
Naeya, te.”
“Oh, Naeya. Roy
sudah pergi dari 3 hari yang lalu, enggak tau kemana.”
“Oh. Yasudah kalau
begitu. Oh ya tante kapan pulang dari Jepang?”
“Jepang?”
“Iya. Tante dan
kak Roy sekarang ada di Jepangkan?”
“Hahaha... selama
1 minggu ini tante ada di rumah.”
Di rumah? Tapi, kak
Roy bilang selama 3 hari ini dia nyusul mamanya ke Jepang. Lalu kak Roy kemana?
“Oh. Iya tante, maaf sepertinya Naeya salah.”
“Oh, ya tidak
apa.”
“Terimakasih
tante.”
“Iya. Salam buat
mama kamu ya.”
“Iya.”
Sebenarnya, kemana
kak Roy? Kenapa dia berbohong padaku? Aduh... kenapa juga aku nangis? Kak Roy.
Kakak kemana?
***
1 minggu kemudian.
Selama satu minggu
setelah kak Roy membohongiku. Dia tidak pernah mengabariku lagi. saat aku tanya
keberadaan kak Roy ke tante. Tante malah tidak tahu dan empat hari yang lalu
tante berangkat ke Australia. Hidupku menjadi hampa. Sekarang tidak ada lagi
yang mengisi hari-hariku.
“Coklat? Sejak
kapan ada coklat di sampingku?” aku melihat ke sekeliling, tapi tidak ada siapa
pun. Taman ini sepi. Padahal ini taman di dalam kampus. Sebenarnya ini jam
pelajaran. Tapi aku yang kabur, bolos. Eh... ada suratnya.
‘Kenapa
sendirian? Jangan murung begitu, kamu lebih cantik kalau tersenyum. Tuan putri.’
Tuan putri? Hanya
kak Roy yang memanggilku tuan putri. Tapi dimana dia? “Kak Roy? Kak! Kak Roy!”.
Kenapa tidak ada yang menjawab? Sebenarnya dimana kak Roy berada? “KAK ROY!!”
berapa kali lagi aku harus memanggil namanya? Dan harus sekeras apa lagi aku
meneriakkan namanya? Ini sudah kedua kalinya kak Roy membuatku menangis. Kak Roy,
kamu dimana? Aku merindukanmu. Tiba-tiba handphoneku berbunyi.
“Halo?”
“Kekasihmu berada ditangan kami. Kalau kamu tidak ingin dia kami
siksa. Cepat datang kemari! Dan jangan membawa polisi. Atau dia akan mati.”
“Apa yang kau
katakan? Jangan sakiti kak Roy!”
“Cepat datang
sebelum matahari tenggelam.”
“Dimana kamu?”
“Kami berada di
gudang kampusmu.”
“Apa? Halo? Halo?”
Tidak ada waktu
untuk terus menangis. Aku harus segera menyelamatkan kak Roy. Di gudang kampus
ya? Ok, aku tau tempatnya.
“Kak Roy!” loh...
kok tidak ada siapa pun? Eh... apa-apaan ini? Kenapa mataku di tutup? Mau
dibawa kemana aku? Loh... suara mobil? Sebenarnya aku mau dibawa kemana? Kenapa
sampai harus naik mobil? Sudah cukup lama... kenapa mobil ini belum berhenti
juga? Apa-apaan ini?
***
Ah... akhirnya penutup mataku dilepas. Dimana ini? Kenapa banyak
orang yang menyeramkan? Mereka semua membawa pistol! Tempat macam apa ini?
“Siapa kalian? Apa mau kalian?”.
“Hemm... ternyata ini
kekasih anak tak tahu diri itu! Cantik juga ya. Hehehe...”
“Siapa kamu?”
“Aku adalah ketua
geng ini. Dan kamu adalah kekasih ketua geng musuhku.”
Ketua geng? Apa
maksudnya? Kak Roy ketua geng? Geng apa?
“Geng? Geng apa?”
“Kau kekasihnya.
Tapi kau tak tahu dia siapa? Whahaha...”
“Jangan bercanda!
Cepat katakan!”
“Tenanglah. Dia
adalah KETUA GENG MAFIA! Whahaha...”
Apa? Ketua geng
mafia? Tidak mungkin!
“Jangan bercanda.
Kak Roy tidak mungkin seorang mafia!”
“Hahaha... dasar
perempuan bodoh. Dengan mudahnya kau dapat ditipu.”
Iya. Aku memang
perempuan bodoh. Aku terlalu mudah ditipu.
“NAEYA!”
“Kak Roy?”
“Oh... ternyata
kau sudah datang. Lihatlah, kekasihmu sudah ada ditanganku. Dan sebentar lagi
dia akan menjadi milikku!”
“Apa yang kau
katakan? Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu itu!”
“Kak Roy?”
“Serang mereka!”
Kak Roy?
Penampilannya berbeda. Nada bicaranya juga berbeda. Tingkat emosinya juga
berbeda. Apakah dia benar-benar kak Roy yang aku kenal? Satu persatu berhasil
ditumbangkan oleh kak Roy dan teman-temannya. Seperti di film-film saja.
Mengagumkan.
“Naeya, kamu tidak
apa?” tanyanya khawatir.
Inikah kak Roy
yang ku punya? “Kak Roy.” Untuk ketiga kalinya aku menangis. Namun, kali ini
bukanlah tangisan kekecewaan atau kesepian. “Kenapa kakak tidak cerita kepadaku
tentang ini?”
“Aku tidak mau
melibatkan kamu. Aku tidak ingin melihatmu terluka. Tapi, hal seperti ini
akhirnya terjadi juga. Untung aku berhasil datang tepat waktu. Kamu itu memang
mudah ditipu ya? Merepotkan saja.” kak Roy berbicara panjang lebar. Dia seolah
menyalahkanku, tapi juga tidak ingin melihatku terluka. Dia benar-benar berbeda
dari kak Roy yang selama ini aku kenal.
“Hahaha...”
“Kenapa kamu
tertawa?”
“Apa kakak sadar
satu hal?”
“Apa? Apa kamu
terluka?” tanyanya panik.
“Tidak.”
“Lalu apa?”
“Ini pertama
kalinya kakak memanggilku Naeya.”
“Dasar kau ini!”
omelnya dengan muka memerah.
Hahaha... walau
pun dia berbeda dari kak Roy yang selama ini aku kenal. Tapi, satu hal yang aku
tahu. Dia adalah kak Roy yang aku cinta.
TAMAT
