Jumat, 12 Agustus 2016

Pacarku Seorang MAFIA !!



Hai, namaku Naeya. Aku seorang mahasiswi di Universitas Brawijaya, Malang. Kehidupanku bisa dibilang menyenangkan. Apa lagi sejak 3 bulan yang lalu aku mendapatkan pacar yang sangat aku idamkan. Namanya Roy. Dia seniorku. Wajahnya rupawan dan postur tubuhnya ideal. Dia juga mahasiswa kharismatik.
            “Naeya, tugas dari Mr. Li sudah kamu kumpulkan?” tanya temanku, Deas.
            “Sudah.” jawabku singkat.
            “Eh... tuh kak Roy nungguin kamu! Beruntung banget ya kamu jadi pacarnya! Kalau kamu sudah bosan sama dia, kasihkan ke aku aja. Aku mau nerima dengan sukarela kok. Hehehe...”
            “Enak saja!” jawabku jengkel. Sudah berapa banyak pengorbananku untuk mendapatkan kak Roy. Mana mungkin aku melepaskannya begitu saja. Dasar Deas, seenaknya sendiri kalau ngomong. “Yaudah, aku mau pulang duluan. Bye.” lanjutku.
***
            Di luar kampus aku melihat kak Roy yang sedang bersandar di mobil sport birunya yang keren sambil memainkan kacamata hitamnya. Kak Roy terlihat seperti pangeran. Bener kata Deas, aku memang beruntung. “Lama nunggu ya kak?” tanyaku.
            “Enggak kok. Baru satu jam.” jawab kak Roy sambil tersenyum manis padaku. Aduh... keren banget. Senyumnya dalam sekejap sudah bikin aku mabuk kepayang.
            “Ah kakak...” kataku yang tersipu malu.
            “Yasudah, ayo naik tuan putri.” katanya sambil membukakan pintu mobilnya untukku.
            “Terimakasih, pangeran.”
            Kak Roy selalu memanggilku tuan putri. Aku bingung kenapa dia memanggilku begitu. Tapi apa pun alasannya, panggilan itu berhasil membuatku bahagia. Bukan hanya panggilan saja, kak Roy juga memperlakukanku seperti tuan putri. Awalnya aku risih dengan sikap kak Roy. Tapi lama kelamaan aku merasa nyaman dan karena sikapnya itu juga aku jadi selalu memikirkannya. Dia berhasil membuatku menjadi ‘Tergila-gila’ padanya.
            “Kita mau kemana?” tanyaku akhirnya setelah kami saling diam selama 5 menit.
            “Pulang.” Jawabnya ringan.
            “Langsung pulang?”
            “Memang tuan putri mau kemana dulu?”
            “Ah tidak... kita langsung pulang saja.”
            Sebenarnya aku ingin sekali berjalan-jalan berdua dengan kak Roy sepulang sekolah. Tapi, kak Roy selalu mengantarku pulang tepat waktu. Begitu juga saat berangkat, dia selalu menjemputku tepat waktu. Kalau begini terus, ini sih  bukan seperti sepasang kekasih. Tapi seperti tuan putri dengan supirnya. Aku juga tidak berani meminta sesuatu pada kak Roy. Takutnya, nanti dia merasa kalau aku banyak maunya, lalu dia pergi tinggalin aku. Oh No!!
            “Terimakasih.” Ucapku setelah turun dari mobilnya.
            “Iya. Nanti aku telepon.”
            “Benarkah? Aku tunggu ya.”
            “Iya. Bye.”
            Aku hanya bisa tersenyum dan melambaikan tanganku. Entah mengapa aku tidak bisa mengucapkan kata ‘Bye’ pada kak Roy. Yah... seperti biasanya dia meneleponku, tapi hanya sebentar saja. Dia seperti diburu waktu. Aku selalu bertanya, sebenarnya dia itu sayang sama aku atau hanya mempermainkan aku saja sih? Masa telepon pacar hanya 5 atau 10 menit saja. Menyebalkan!
            “Naeya, kamu belum tidur, sayang?” tanya mama yang habis mengunci pintu depan.
            “Ini mau ke kamar ma.” jawabku, lalu aku naik ke anak tangga menuju kamarku. Sesampainya aku di kamar, handphoneku berbunyi, ada sms baru masuk.

GOOD NIHGT MY PRINCESS.

Kak Roy. Hehehe... walau dia hanya meneleponku sebentar tapi sebenarnya dia sangat perhatian padaku. Dia adalah pacar idamanku.
***
“Good Morning My Princess.” sapa kak Roy yang sedang mengobrol dengan mama.
“Good Morning.” jawabku senang.
“Naeya, kamu sudah siap?” tanya mama.
“Sudah. Naeya berangkat ke kampus dulu ya, ma.” jawabku.
“Kami pergi dulu, tante.” kata kak Roy pamit ke mama.
“Iya. Hati-hati di jalan.” jawab mama sambil melambaikan tangan.
‘Setiap pagi kak Roy selalu menjemputku tepat waktu. Seperti bodyguard aja.’ gerutuku dalam hati.
“Kamu lagi ngomongin aku ya tuan putri?”
Aduh... kok tepat banget sih pertanyaannya. Aku harus jawab apa ya?
“Oh, maaf kalau aku salah ngomong. Tuan putri sampai diam lama gitu.”
“Eh, eng... enggak kok.” Hemm... “Kak Roy.”
“Iya tuan putri?”
“Kenapa kakak kalau nelpon hanya sebentar saja?” aduh... aku kok ngomong gini ya? Tuh, kak Roy langsung noleh lagi. Nyesel deh.
“Maaf, tuan putri. Aku hanya takut mengganggu istirahat tuan putri.”
“Ti... tidak kok. Aku malah seneng kalau kakak nelponnya lama.”
“Benarkah? Lain kali aku usahakan deh.”
“Beneran?”
“Iya. Apa sih yang enggak untuk tuan putri?”
Oh My God!! Kak Roy bilang gitu? Mimpi apa kau semalem? Pangeran idamanku bilang seolah-olah akulah yang terpenting dalam hidupnya. Oh tuhan, thank you.
“Tuan putri.”
“Ya.”
“Untuk 3 hari yang akan datang. Maaf aku tidak bisa berada disisimu.”
“Kenapa?”
“Aku ada urusan keluar negeri.”
“Urusan apa?”
“Mamaku sekarang di Jepang dan minta aku ke sana.”
“Oh... ok. Enggak apa kok.”
“Terimakasih, tuan putri.”
Yah... 3 hari kedepan aku enggak bisa ketemu kak Roy lagi dong? Pasti aku bakal kesepian deh. Tapi aku kan masih bisa telpon-telponan. Yasudahlah.
***
3 hari berlalu.
‘Maaf, nomer yang anda tuju sedang sibuk.’
“Sibuk apa sih kak Roy ini?”
“Sabar dong. Palingan juga handphonenya enggak dibawa atau apalah.” kata Deas mencoba untuk menenangkanku.
“Tapi sejak 3 hari yang lalu handphonenya selalu sibuk.”
“Udahlah, kamu tenang saja. Mungkin dia banyak kerjaan di Jepang.”
***
‘Maaf, nomer yang anda tuju sedang sibuk.’.
‘Maaf, nomer yang anda tuju sedang sibuk.’.
‘Maaf, nomer yang anda tuju sedang sibuk.’.
            Aduh.. dari tadi sibuk melulu. Kamana sih kak Roy ini? Bikin aku khawatir saja.
            “Hallo?”
            “Halo, kak Roy? Kakak kemana saja sih? Dari...”
            “Ini bukan Roy.”
            “Eh... maaf. Ini siapa ya?”
            “Ini tante, mamanya Roy.”
            “Oh, tante. Ini Naeya, te.”
            “Oh, Naeya. Roy sudah pergi dari 3 hari yang lalu, enggak tau kemana.”
            “Oh. Yasudah kalau begitu. Oh ya tante kapan pulang dari Jepang?”
            “Jepang?”
            “Iya. Tante dan kak Roy sekarang ada di Jepangkan?”
            “Hahaha... selama 1 minggu ini tante ada di rumah.”
           Di rumah? Tapi, kak Roy bilang selama 3 hari ini dia nyusul mamanya ke Jepang. Lalu kak Roy kemana? “Oh. Iya tante, maaf sepertinya Naeya salah.”
            “Oh, ya tidak apa.”
            “Terimakasih tante.”
            “Iya. Salam buat mama kamu ya.”
            “Iya.”
            Sebenarnya, kemana kak Roy? Kenapa dia berbohong padaku? Aduh... kenapa juga aku nangis? Kak Roy. Kakak kemana?
***
            1 minggu kemudian.
            Selama satu minggu setelah kak Roy membohongiku. Dia tidak pernah mengabariku lagi. saat aku tanya keberadaan kak Roy ke tante. Tante malah tidak tahu dan empat hari yang lalu tante berangkat ke Australia. Hidupku menjadi hampa. Sekarang tidak ada lagi yang mengisi hari-hariku.
            “Coklat? Sejak kapan ada coklat di sampingku?” aku melihat ke sekeliling, tapi tidak ada siapa pun. Taman ini sepi. Padahal ini taman di dalam kampus. Sebenarnya ini jam pelajaran. Tapi aku yang kabur, bolos. Eh... ada suratnya.

            Kenapa sendirian? Jangan murung begitu, kamu lebih cantik kalau tersenyum. Tuan putri.’

            Tuan putri? Hanya kak Roy yang memanggilku tuan putri. Tapi dimana dia? “Kak Roy? Kak! Kak Roy!”. Kenapa tidak ada yang menjawab? Sebenarnya dimana kak Roy berada? “KAK ROY!!” berapa kali lagi aku harus memanggil namanya? Dan harus sekeras apa lagi aku meneriakkan namanya? Ini sudah kedua kalinya kak Roy membuatku menangis. Kak Roy, kamu dimana? Aku merindukanmu. Tiba-tiba handphoneku berbunyi.
            “Halo?”
“Kekasihmu berada ditangan kami. Kalau kamu tidak ingin dia kami siksa. Cepat datang kemari! Dan jangan membawa polisi. Atau dia akan mati.”
            “Apa yang kau katakan? Jangan sakiti kak Roy!”
            “Cepat datang sebelum matahari tenggelam.”
            “Dimana kamu?”
            “Kami berada di gudang kampusmu.”
            “Apa? Halo? Halo?”
            Tidak ada waktu untuk terus menangis. Aku harus segera menyelamatkan kak Roy. Di gudang kampus ya? Ok, aku tau tempatnya.
            “Kak Roy!” loh... kok tidak ada siapa pun? Eh... apa-apaan ini? Kenapa mataku di tutup? Mau dibawa kemana aku? Loh... suara mobil? Sebenarnya aku mau dibawa kemana? Kenapa sampai harus naik mobil? Sudah cukup lama... kenapa mobil ini belum berhenti juga? Apa-apaan ini?
***
Ah... akhirnya penutup mataku dilepas. Dimana ini? Kenapa banyak orang yang menyeramkan? Mereka semua membawa pistol! Tempat macam apa ini? “Siapa kalian? Apa mau kalian?”.
            “Hemm... ternyata ini kekasih anak tak tahu diri itu! Cantik juga ya. Hehehe...”
            “Siapa kamu?”
            “Aku adalah ketua geng ini. Dan kamu adalah kekasih ketua geng musuhku.”
            Ketua geng? Apa maksudnya? Kak Roy ketua geng? Geng apa?
            “Geng? Geng apa?”
            “Kau kekasihnya. Tapi kau tak tahu dia siapa? Whahaha...”
            “Jangan bercanda! Cepat katakan!”
            “Tenanglah. Dia adalah KETUA GENG MAFIA! Whahaha...”
            Apa? Ketua geng mafia? Tidak mungkin!
            “Jangan bercanda. Kak Roy tidak mungkin seorang mafia!”
            “Hahaha... dasar perempuan bodoh. Dengan mudahnya kau dapat ditipu.”
            Iya. Aku memang perempuan bodoh. Aku terlalu mudah ditipu.
            “NAEYA!”
            “Kak Roy?”
            “Oh... ternyata kau sudah datang. Lihatlah, kekasihmu sudah ada ditanganku. Dan sebentar lagi dia akan menjadi milikku!”
            “Apa yang kau katakan? Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu itu!”
            “Kak Roy?”
            “Serang mereka!”
            Kak Roy? Penampilannya berbeda. Nada bicaranya juga berbeda. Tingkat emosinya juga berbeda. Apakah dia benar-benar kak Roy yang aku kenal? Satu persatu berhasil ditumbangkan oleh kak Roy dan teman-temannya. Seperti di film-film saja. Mengagumkan.
            “Naeya, kamu tidak apa?” tanyanya khawatir.
            Inikah kak Roy yang ku punya? “Kak Roy.” Untuk ketiga kalinya aku menangis. Namun, kali ini bukanlah tangisan kekecewaan atau kesepian. “Kenapa kakak tidak cerita kepadaku tentang ini?”
            “Aku tidak mau melibatkan kamu. Aku tidak ingin melihatmu terluka. Tapi, hal seperti ini akhirnya terjadi juga. Untung aku berhasil datang tepat waktu. Kamu itu memang mudah ditipu ya? Merepotkan saja.” kak Roy berbicara panjang lebar. Dia seolah menyalahkanku, tapi juga tidak ingin melihatku terluka. Dia benar-benar berbeda dari kak Roy yang selama ini aku kenal.
            “Hahaha...”
            “Kenapa kamu tertawa?”
            “Apa kakak sadar satu hal?”
            “Apa? Apa kamu terluka?” tanyanya panik.
            “Tidak.”
            “Lalu apa?”
            “Ini pertama kalinya kakak memanggilku Naeya.”
            “Dasar kau ini!” omelnya dengan muka memerah.
            Hahaha... walau pun dia berbeda dari kak Roy yang selama ini aku kenal. Tapi, satu hal yang aku tahu. Dia adalah kak Roy yang aku cinta.

TAMAT