Minggu, 28 Juli 2013

TERSENYUM DALAM TANGISAN






          Di SMP Negeri 1 Krian ada sebuah kisah cinta yang hanya di ketahui seorang siswi itu sendiri. Siswi itu adalah aku. Sudah cukup lama aku menyimpan kisah cinta ini. Sekarang aku ingin menceritakan apa yang aku tau tentang cinta.
          Kisah ini dimulai saat hari pertama masuk sekolah. Saat itu aku masih kelas 7 dan hari itu adalah hari pertama aku masuk SMP Negeri  1 Krian. Sekolahku tidak sebesar dan seluas yang aku kira. Namun di dalam sekolah itu aku memiliki kisah cinta yang sangat mendalam.

***

Flasback Part 1


          “Perkenalkan nama saya Yunia Rudiawan. Saya berasal dari sekolah yang mungkin kalian sudah kenal, yakni SD Negeri 3 Krian. Cita-cita saya ingin menjadi pengusaha sukses dan terkenal.” kataku yang sedang memperkenalkan diri di depan teman-teman baruku di kelas dan sekolah baruku.
          Tidak terasa sekarang aku sudah kelas 7. Padahal aku masih ingat saat aku bermain-main dengan bebas bersama teman-temanku di SD Negeri 3 Krian. Tetapi sekarang aku sudah harus lebih dewasa. Aku tidak boleh terlalu banyak bermain seperti saat aku di SD dulu.
          “Perkenalkan namaku Kresa Pangeran. Aku berasal dari SD Negeri 4 Krian. Cita-citaku ingin menjadi dokter.” katanya dengan tegas dan ramah. Walaupun dia sama sepertiku, yakni anak baru kelas 7. Namun, cara dia berbicara tidak seperti teman-teman baruku yang lain. Dia sangat ramah dan bersahabat. Cara bicaranya sopan dan tegas dan juga sesekali dia tersenyum sambil memandang kami semua (teman-teman satu kelas).
          Dag... Dig... Dug...’
          Itulah yang aku rasakan setiap bertemu denganya atau berpapasan dengannya dan saat aku mengobrol dengannya, rasanya nyaman dan menyenangkan. Seakan aku ingin selalu berada di sisinya dan tak ingin berpisah dengannya.

***

Flasback Part 2


          Sekarang aku menjadi siswi kelas 8. Seharusnya aku senang. Karena aku bisa naik kelas. Namun, saat ini aku merasa kecewa dan sedih. Aku kecewa karena aku tidak bisa satu kelas lagi dengan dia (Kresa). Dan aku sangat sedih. Karena aku tidak bisa bersama dengannya seperti dulu saat aku di kelas 7.
          Dulu tidak setiap hari aku bisa mengobrol dengan dia. Tapi aku bisa setiap hari melihatnya. Itu lebih dari cukup bagiku untuk saat itu. Saat aku di kelas 7.
          Namun ternyata dulu dengan sekarang itu berbeda. Sekarang dia satu kelas dengan salah satu teman baikku. Namanya Nafah Zahrah. Dia pernah curhat padaku. Dia berkata bahwa dia menyukain Kresa. Saat mendengar itu aku hanya bisa diam. Aku tersenyum untuknya, namun hatiku menangis. Tidak ada yang bisa aku perbuat. Aku memang menyukai Kresa. Tapi, aku tak bisa menyakiti hati teman baikku. Nafah tidak seperti diriku yang hanya memendam perasaan ini di dalam hati saja. Dengan halus Nafah mendekati Kresa. Dan dia pun mulai memancing Kresa agar menyukainya. Namun ternyata gagal. Kresa lebih menyukai perempuan lain, yaitu Intan. Intan tidak satu kelas dengan Kresa. Namun mereka dapat dekat karena mereka berdua masuk kelas unggulan. Kelas unggulan adalah kelas dimana hanya anak-anak yang cerdas dalam pelajaran (akademis) saja yang bisa masuk kelas itu.
          Saat itu nilai akademisku tidak memungkinkan untuk bisa masuk ke kelas unggulan, malah nilai nonakademisku yang baik. Saat ini aku jarang sekali bertemu dengan dia. Bahkan kami pun setiap berpapasan tidak pernah saling tegur sapa. Padahal dulu dimana pun kami bertemu atau hanya berpapasan pasti akan tegur sapa. Sikapnya jadi cuek padaku.


***

Flasback Part 3


          Sekarang aku menjadi siswi kelas 9. Aku senang sekali. Karena aku bisa satu kelas lagi dengan dia (Kresa). Aku berharap kami bisa seperti dulu. Seperti saat aku dan dia di kelas 7. Harapanku sangat besar tentang itu dan aku sangat bahagia saat membayangkan bahwa aku dan dia bisa bersama seperti dulu. Bahkan bisa lebih.
          Namun, harapanku pupus sudah. Ada kabar bahwa dia sudah berpacaran dengan Intan. Saat aku mendengar kabar itu awalnya aku tidak percaya. Namun, waktu demi waktu aku mulai mempercayainya. Itu dikarenakan sikap dan sifatnya yang berubah. Dulu dia selalu terbuka dan ramah padaku dan semua teman-teman di kelas. Namun, sekarang dia menjadi tertutup dan cuek padaku. Awalnya aku kira dia hanya cuek padaku ternyata dia juga cuek pada semua teman-teman di kelas. Terutama teman-teman cewek.
          3 bulan berlalu. Aku mendengar kabar yang membahagiakan. Yaitu dia (Kresa) putus dengan Intan. Aku sangat senang pada waktu itu. Dan sikapnya pun berubah seperti dulu lagi, yaitu menjadi terbuka dan ramah.
          Hari berlalu demi hari dan bulan berlalu demi bulan. Tidak terasa sudah 3 tahun aku memendam perasaan ini. Rasa sukaku semakin dalam dan sepertinya sekarang sudah menjadi cinta.
          Aku ingin menyatakan perasaanku padanya. Hari itu aku berencana untuk menyatakan perasaanku padanya. Namun, sebelum aku mendekatinya ada teman yang mendekatiku terlebih dahulu. Namanya Figih.
          “Yunia... aku menyukaimu sejak kita di kelas 7. Kamu mau tidak menjadi pacarku ?” ungkapnya tegas.
          Aku hanya diam. Walau ada Figih di depanku dan menyatakan cinta padaku. Namun, hatiku tak berespon seperti saat Kresa berada di depanku.
          “Maaf, lebih baik kita berteman saja. Kita sudah kelas 9. Aku mau konsen pada pelajaran.” jawabku tegas. Sebenarnya aku tidak tega menolak cintanya. Namun, hatiku tidak bisa menerima Figih.
          Hari kemudian aku mencoba untuk mendekati Kresa dan menyatakan cinta padanya. Namun, tidak aku sangka dia menjauh dan menjadikanku bahan tawaan dengan teman-temannya.
          “Wah... ada apa kamu ke sini? Kamu mau nyari pacar kamu ya?” tanyanya menyindir.
          “Pa... pacar? Si... siapa?” tanyaku bingung dan gerogi.
          “Siapa lagi kalau bukan Figih? Hahaha...” jawabnya dengan menyindir lalu tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya yang lain (anak-anak cowok di yang duduk di dekatnya).
          Setelah mendengar jawabannya aku hanya diam. Lalu aku pergi meninggalkannya dan teman-temannya yang sedang tertawa terbahak-bahak karena sudah menyindirku. Aku tak menyangka ternyata dia seperti itu. Mungkin ini karena dia tidak tau, bahwa yang aku cari adalah dia. Dan cintanya. Bukan Figih.
          Setelah kejadian itu dia mulai sering menyindirku. Karna aku sudah menolak cinta Figih. Aku tidak tau kenapa dia seperti itu. Aku hanya bisa diam saat dia menyindirku. Karena aku merasa, sepertinya hanya saat dia menyindirkulah, aku bisa dekat dengannya.
          Itu terjadi karena temanku Tresa sangat akrab dengannya. Nama mereka memang hampir mirip, maka tidak jarang mereka di buat bahan sindiran teman-teman satu kelas. Bukan hanya nama mereka yang hampir mirip. Namun, rumah mereka juga berdekatan (bertetangga).
          Kalau dilihat dan di bandingkan antara aku dan Tresa, maka akulah yang kalah. Tresa memiliki kesempatan yang sangat besar untuk berada di samping Kresa setiap saat dan dia selalu bisa membuat Kresa tersenyum. Sedangkan aku, aku tidak bisa seperti Tresa. Aku hanya bisa melihat Kresa dari jauh.
          Setiap teman-teman tanya apakah Tresa menyukai Kresa, dia selalu menjawab tidak. Namun, apabila aku melihat tatapan mata Tresa pada Kresa, seakan ada cinta yang tersirat diantara mereka.
          Hatiku menjadi sedih, sangat sedih. Melihat keakraban Tresa dengan Kresa. Rasanya sakit.

***

Flasback Part 4


          Hari ini adalah hari perpisahan sekolah. Semua murid kelas 9 berlibur ke Pulau Dewata (Bali) selama 3 hari 2 malam. Sungguh sangat menyenangkan bisa berkumpul dengan teman-teman dan bermain sepuasnya sebelum berpisah. Karena setelah pulang dari Pulau Bali maka kemungkinan untuk seperti saat itu sangat kecil, bahkan tidak akan pernah bisa lagi.
          Hari pertama dan malam pertama menginap di hotel, kami lewatkan dengan bercanda gurau dan lain-lain. Sunguh sangat menyenangkan. Tapi hatiku tak seperti hati teman-temanku saat itu. Hatiku malah bersedih, bahkan rasanya sangat sakit. Karena aku melihat Kresa sangat akrab dengan Tresa. Akrab sekali. Seakan mereka adalah pasangan kekasih.
          Hari kedua tepatnya di malam kedua kami menginap di hotel. Aku melihat Kresa duduk sendiri di anak tangga. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya dan duduk di sampingnya.
          “Kenapa kamu disini sendirian?” tanyaku ramah.
          “Tidak apa. Aku hanya ingin mencari udara segar.” jawabnya ramah.
          Aku tersenyum saat mendengarkan jawabannya. Aku melihat ke sekitar dan meresakan dinginnya udara malam saat itu. Sebenarnya aku kedinginan kalau lama-lama duduk di anak tangga, tapi rasa dingin itu perlahan menjadi hangat, terutama di sebelah kanan, dimana Kresa berada di sampingku. Sangat menyenangkan, aku berharap waktu bisa berhenti dan aku bisa lebih lama berada di dekatnya. Tanpa aku sadari, aku terus memperhatikannya. Aku merasa nyaman saat berada di sampingnya. Dengan perlahan dia menoleh ke arahku. Kami sempat saling pandang beberapa menit, wajah kami sangat dekat. Jantungku berdetak sangat cepat, itu membuatku gerogi.
          “Aku suka kamu.” kataku tiba-tiba. Aku terkejut saat mendengar perkataanku sendiri. Kalimat itu keluar begitu saja. Aku menjadi salah tingkah karnanya.
          Dia pun terkejut mendengar pengakuanku.
          “Maaf Yunia... aku sudah punya pacar.” jawabnya lemah sambil memalingkan wajahnya dariku dengan perlahan.
          “Si... siapa?” tanyaku bingung dan kecewa.
          “Tresa.” jawabnya tegas namun pelan.
          Aku hanya diam. Hatiku hancur. Cintaku yang selama ini aku pendam selama 3 tahun, ternyata pupus dalam waktu yang sesingkat itu.
          “Sekali lagi aku minta maaf.” katanya perlahan, namun apabila di dengar dari suaranya seakan dia sangat menyesal karena sudah menolakku. “Sudah larut lebih baik kamu cepat tidur. Besok kita harus bangun pagikan ?” sambungnya ramah lalu pergi meninggalkanku sendirian duduk di anak tangga pada larut malam.

***

Flasback Part 5


          Di pagi hari berikutnya. Semua murid kelas 9 di haruskan masuk kedalam bus masing-masing. Karena aku dan Kresa satu bus maka mau tidak mau aku harus bertemu dengannya lagi. Pintu bus masih penuh dengan anak-anak yang mau masuk kedalam bus. Aku pun mengalah, lalu aku mundur. Aku mempersilahkan teman-temanku masuk terlebih dahulu. Begitu juga dengan Kresa. Mungkin dia melihatku lalu dia berjalan mendekatiku.
          “Anu... Yunia... pa... pagi.” sapanya gerogi. Mungkin dia masih merasa bersalah karena sudah menolakku tadi malam dan meninggalkanku sendirian.
          Aku terdiam cukup lama setelah mendengar sapaannya dan memalingkan wajahku. Aku menguatkan diriku untuk membalikkan badan dan menatap matanya. Setelah aku merasa siap aku menoleh ke arahnya. “Pagi Kresa.” jawabku ramah dan riang.
          “Kamu... kamu cantik sekali pagi ini.” katanya dengan malu-malu.
          “Terimakasih. Kamu kenapa? GR ya? Waktu aku bilang suka, yang waktu itu bohong, kok! Kamukan udah punya pacar. Aku juga enggak boleh kalah dong! Pacarku harus 100 kali lebih keren dari kamu! Hahaha...” kataku menyindir lalu tertawa.
          Padahal masih ada 3 temanku yang ingin masuk ke dalam bus. Tapi dengan cepat aku mendului mereka naik ke dalam bus dan aku langsung duduk di sebelah Sahabatku. Namanya Yola. Aku duduk dengan kasar, dan itu membuat Yola terkejut. Lalu aku tutup wajahku dengan sapu tangan yang selalu aku bawa kemana pun aku pergi saat di Bali.
          “Apa kamu tidak apa? Aku tadi melihat kamu mengobrol dengan Kresa. Apa kamu tidak ap...” katanya dengan panik namun dengan suara yang pelan.
          Belum sampai selesai Yola berkata aku sudah langsung memeluknya. Dan dia pun menerima pelukanku dengan ramah.
          “Sudahlah... tidak apa... masih banyak lelaki lain yang lebih baik dari dia... sudah tidak apa...” katanya mencoba menenangkanku.
          Dengan perlahan aku melepaskan pelukanku. Lalu aku duduk seperti awal dan aku tutup mukaku dengan sapu tanganku. Tanpa aku sadari, aku menangis. Yola yang berada di sampingku hanya bisa diam sambil memperhatikanku.
          “Yola... Yunia kenapa ?” tanya Kresa saat melewati tempat duduk aku dan Yola.
          “Tadi Yunia dapet telepon dari mamanya. Katanya kucingnya mati di tabrak sepeda motor.” jawab Yola berbohong.
          “Hanya karena kucingnya mati dia sampai menangis seperti itu?” tanya Kresa menyindir.
          “Sudah pergi sana! Bentar lagi busnya mau berangkat!” bentak  Yola dingin tanpa menghiraukan pertanyaan Kresa.
          “Iya... iya... dingin banget sih!” kata Kresa jengkel sambil berjalan menuju tempat duduknya.
          Setelah membentak Kresa, Yola memandangku lagi. Dengan perlahan aku menurunkan sapu tangan dari wajahku dan mulai menyeka air mata yang menetes di pipiku. Lalu aku menoleh padanya.
          “Thanks ya.” kataku sambil tersenyum.
          “Apa kamu sudah tak apa?” tanyanya khawatir.
          “Iya.” jawabku lemah sambil tersenyum.
           Yola tersenyum setelah mendengar jawabku.
          Dengan perlahan aku memalingkan wajahku ke dekat kaca jendela.
          “Ah, aku memang bodoh. Seharusnya aku sudah tau ini dari awal. Kresa tidak pernah menyukaiku. Dia hanya menganggapku sebagai temannya saja. Hanya teman. Tidak lebih. Kresa... Walau pun kau sudah menolakku tapi cintaku untukmu masih tetap ada di dalam hatiku. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu. Semoga kamu bahagia dengan apa yang sudah kamu miliki.” kataku di dalam hati lalu aku tersenyum namun air mataku menetes. Kini aku sadar, cinta tidak harus memiliki. Aku senang karna sudah mencintainya, aku pun juga senang karena aku sudah bisa menyatakan perasaanku padanya. Dia tidak perlu menjawabnya, aku tak butuh jawabannya, yang aku inginkan adalah agar dia tau perasaanku. Itu sudah cukup untukku. Bagiku, kebahagiaannya sangatlah berarti bagiku. Karena aku mencintainya.
~SELESAI~

Perfect Class Leader #03 – Masalah Besar Seorang Model






          Hari ini ada fashion show pakaian baru yang akan di keluarkan. Terlihat para model berjalan dengan anggun di atas cat walk dan mengenakan berbagai macam model pakaian kimono. Tapi ada satu dari model-model itu yang tiba-tiba pingsan saat memamerkan pakaian yang ia kenakan.
          Di ruang tunggu para model.
          “Sena, sudah saya bilang berulan kali kamu jangan melihat ke kamera!” bentak menejer pada Sena, sang model.
          “Maafkan saya.” kata Sena dengan sedih.
          Sena adalah seorang model. Sudah 1 tahun dia terjun ke dunia modeling. Tapi dia memiliki sebuah kelemahan. Dia selalu pingsan setiap melihat kamera. Kelemahannya ini lah yang membuat dia sedikit mendapatkan tawaran menjadi model majalah atau yang lain.
          “Tenanglah, bos. Mungkin dia perlu belajar untuk membiasakan diri.” ujar Riki menenangkan menejernya.
          Riki adalah model profesional. Dia satu agency dengan Sena. Tapi beda jauh dengan Sena. Riki terlihat sangat berkharisma dan menatap langsung ke arah kamera. Jadi wajar saja kalau Riki selalu mendapat banyak tawaran kerja. Riki adalah lelaki yang disukai Sena.
          “Ya sudahlah.” kata Menejer mengalah. “Untuk hari ini terimakasih atas kerja keras kalian.” sambung menejer mengakhiri. Dan semua model pun pulang.
          “Sena!” panggil menajer saat berada di koridor mengejar Sena yang mau pulang. “Bisa ikut saya sebentar?” tanya menejer sambil berjalan menuju suatu ruangan dan Sena pun mengikutinya.
          Saat didalam ruangan tersebut menejer memberikan sebuah brosur pada Sena.
          “Kamu harus bisa memenangkan audisi tersebut. Model prianya pasti Riki. Mereka sedang mencari model wanitanya. Kalau kamu tidak bisa lolos dalam audisi itu maka dengan terpaksa kamu akan di pecat dari agency.” kata menejer tegas.

***

          Keesokan harinya di sekolah.
          “Sena, kamu kenapa?” tanya Tika. Tika adalah teman baik Sena.
          Sena tidak mengubris pertanyaan Tika. Tubuhnya kelelahan. Kemarin dia pulang larut malam. Karena tempat fashion shownya di luar kota dan juga acaranya berakhir pukul 22.00 pula. Jadi dia kurang tidur.
          “Sena, kamu kenapa?” tanya Mimi khawatir. Mimi adalah seorang ketua kelas yang kharismatik.
          “Ketua kelas, apa ketua punya waktu setelah pulang sekolah nanti?” tanya Sena lemas.
          “Iya.” jawab Mimi sambil tersenyum manis.
          “Temani aku minum teh ya!” pinta Sena semangat.
          “Hei! Aku tidak kau ajak?” tanya Tika kesal.
          “Bukankah  hari ini kau ada piket?” tanya Sena.
          “I... iya sih. Tapikan...” jawab Tika.
          “Kalau kamu bolos piket nanti di hakimi anak-anak satu kelas loh!” kata Sena mengancam.
          “Ih... iya-iya. Dasar kau ini Sena, bilang saja enggak mau nraktir aku!” kata Tika kesal.
          Semua yang mendengar perkataan Tika pada tertawa. Seperti biasa, Tika selalu menggembungkan pipinya saat sedang kesal. Itu membuat dia tampak lucu dan membuat orang yang melihatnya ingin tertawa.

***

          Sepulang sekolah Sena mengajak Mimi minum teh di cafe dekat sekolah.
          “Ketua kelas, apa aku ini bodoh?” tanya Sena sambil menundukkan kepalanya.
          “Apa maksud kamu?” tanya Mimi bingung.
          “Aku ini seorang model. Tapi aku malah pingsan kalau lihat kamera.” jawab Sena sedih.
          “Jangan sedih, Sena. Kamu jangan menganggap kamera sebagai kamera!” kata Mimi sambil tersenyum manis.
          “Maksudnya?” tanya Sena bingung.
          “Saat di depan kamera, kamu jangan mengaggap kamera adalah kamera. Anggap saja itu kotak kejutan yang isinya badut. Sebelum kamu bergaya di depan kamera coba kamu tutup mata kamu dan baca sebuah mantra setelah itu kamu buka mata kamu dan bayangkan orang yang kamu sukai ada di depan kamu.” jelas Mimi.
          “Mantra apa ketua kelas?” tanya Sena bersemangat.
          “Mimi Tenar.” jawab Mimi sambil tersenyum manis.
          “Ketua tidak bercandakan?” tanya Sena merasa dibodohi oleh Mimi.
          “Tentu saja tidak! Saat kau bilang ‘Mimi’ ujung-ujung bibir harus diangkat keatas mungkin. Cobalah!” jawab Mimi sambil tersenyum manis.

***

          Setelah mentraktir Mimi, Sena pulang ke rumah dan bergegas masuk ke kamar. Dia mempersiapkan berbagaimacam model baju dan kamera. Dia mencoba untuk mengikuti saran Mimi. Dia berusaha dengan keras, karena besok audisinya akan di mulai.

***

          Keesokan harinya di tempat audisi.
          “Aduh, pesertanya banyak banget.” kata Sena dengan nada pelan. Dia merasa gerogi. Hingga akhirnya namanya di panggil dan dia memasuki ruangan pemotretan.
          ‘Riki menjadi salah satu jurinya.’ kata Sena dari dalam hati.
          Saat di depan kamera, dia menutup mata lalu membaca mantra dari Mimi di dalam hati.
          “Apa yang dia lakukan? Membuang waktu saja!” kata seorang juri kesal.
          “Sabarlah, tunggulah sebentar lagi.” kata Riki menenangkan.
          Beberapa saat kemudian Sena sudah merasa lebih tenang. Perlahan dia membuka matanya dan membayangkan seseorang yang dia sukai ada di depannya. Dan dia menganggap kamera menjadi kota kejutan yang lucu. Dan akhirnya dia berhasil menutupi kelemahannya dan menjadikannya menjadi kelebihan. Senyumnya sangat manis. Dia bergaya dengan bebas di depan kamera. Semua juri pada terpesona dengan senyum Sena yang manis tidak terkecuali Riki.

***

          1 minggu kemudian. Hasil audisi telah diumumkan.
          “Benarkah?” tanya Sena tak percaya.
          “Iya. Kamu lolos dalam audisi.” jawab menejer dengan senang.
          “Selamat ya Sena!” kata Riki sambil tersenyum manis.
          “I... iya.” Jawab Sena malu-malu.
          “Saat melihat senyummu kemarin aku sampai terpesona loh.” puji Riki.
          Sena yang mendengar pujian Riki sangat senang. Wajahnya memerah karena malu. Sena tidak melupakan jasa Mimi. Dia dengan hati kembira menelepon Mimi. Dia memngabarkan keberhasilannya pada Mimi dan mengucapkan terimakasih atas nasihat yang telah Mimi berikan.
          Acara pemotretan berjalan selama 1 minggu berturut-turut.
          “Sena. Apa kamu tidak lelah? Istirahatlah sejenak.” tanya photografer.
          “Tidak. Ayo kita lanjutkan!” jawab Sena sambil tersenyum manis.
          Sena bekerja dengan keras. Dia selalu tersenyum dan ceria. Padahal semua orang tau kalau Sena lah yang paling lelah. Tapi Sena menutupi itu semua dengan senyum manisnya.
          “Sena bekerja dengan sangat keras, ya.” kata seorang staff.
          “Iya. Sepertinya ini pertama kali buatnya. Apa dia tidak apa? Dia terlihat sangat kelelahan.” kata staff satu lagi.
          Riki mendengar pembicaraan kedua staff tersebut. Lalu dia pergi melihat pemotretan. Tapi ternyata sedang jam istirahat.
          “Dimana Sena?” tanya Riki pada seorang staff.
          “Dia sedang istirahat di bangku taman sana.” Jawab staff tersebut.
          Lalu Riki berjalan menuju Sena.
          “Sen...” kata Riki ingin menyapa tapi ternyata dia melihat Sena yang sedang tertidur sambil duduk. “Dia tidur?” tanya Riki sambil tersenyum manis.
          Tiba-tiba Sena tumbang. Dengan cepat Riki duduk di samping Sena.
          “Untung saja keburu.” kata Riki.
          Riki memperhatikan Sena yang sedang tidur. Tanpa sadar Riki terpesona untuk kedua kalinya pada Sena. Dengan perlahan dia mendekat pada Sena dan mincium Sena.
          Dari kejauhan terlihat seorang wartawan yang sedang memotret Riki yang sedang mencium Sena saat Sena sedang tertidur.

***

          Keesokan harinya muncul sebuah gosip tentang hubungan model profesional, Riki dengan seorang model perempuan dari satu agency. Gosip itu terdengar di telinga menejer mereka.
          “Sena. Kau sudah mendengar gosip terbaru saat ini?” tanya menejer.
          “Sudah. Tapi itu hanyalah salah paham.” jawab Sena tegas. Dia tidak merasa melakukan itu. Tentu saja tidak merasa, kan Riki nyiumnya saat Sena tidur. Hehehe...
          “Gosip ini sudah tersebar. Kami tidak mau ambil resiko. Riki sudah memiliki pamor yang tinggi terlebih dahulu. Maka kami putuskan untuk mempertahankannya. Sena, untuk pemotretan 3 hari berikutnya sepertinya kamu tidak perlu datang.” kata menejer dengan tegas.
          Sena sangat kecewa mendengarnya. Tapi mau bagaiana lagi, dia tidak mungkin menurunkan pamor Riki karna ke egoisannya. Dia hanya bisa diam dan menerima itu semua.

***

          Hari berikutnya. Sena tetap didalam rumah. Dia tidak di perbolehkan datang ke pemotretan. Terlihat Sena sedang menangis di dalam kamarnya. Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Sena pintu rumah dengan lemas.
          “Hai!” sapa Riki.
          “Riki? Kenapa kamu kesini? Pemotretannya...” kata Sena heran. Namun, belum sampai selasai dia berbicara tiba-tiba Riki memeluknya.
          “Kalau kamu tidak ada maka aku tidak mau.” kata Riki saat memeluk Sena. “Ayo cepat, semua sudah menunggu!” ajak Riki sambil menggenggam tangan Sena.
          “Tapi, aku tidak boleh ke tempat pemotretan.” kata Sena sedih.
          “Aku sudah minta izin ke menejer. Ayo cepat!” ajak Riki buru-buru.
          “Benarkah? Baiklah.” jawab Sena senang.

***

          Di tempat pemotretan.
          “Apa benar aku boleh ikut pemotretan lagi?” tanya Sena.
          “Mau bagaimana lagi. kalau kamu tidak ikut, Riki juga tidak mau.” jawab menejer.
          “Iya. Kami juga tidak rela kalau kau berhenti begitu saja.” kata salah satu staff.
          “Benar. Sena kan sudah bekerja dengan keras.” timpal staff yang lain.
          “Ok. Mari kita mulai pemotretan untuk hari ini.” Kata photografer.
          Akhirnya pemotretan berjalan dengan lancar. Setelah pemotretan hari ini Riki mengantar Sena pulang. Sesampainya di depan rumah Sena.
          “Terimakasih banyak untuk hari ini.” kata Sena.
          “Enggak masalah.” jawab Riki.
          “Riki... aku heran deh. Kenapa bisa ada gosip seperti itu.” kata Sena.
          “Gosip apa?” tanya Riki sambil tersenyum.
          “Entahlah. Gosip tentang aku dan kamu. Tapi aku bingun, bagaimana bisa mereka mendapat foto itu.” kata Sena yang bingung.
          Tiba-tiba Riki mendekat pada Sena.
          “Maaf ya. Itu semua salahku. Lain kali aku akan menciummu saat bangun saja.” kata Riki lalu tersenyum.
          Muka Sena menjadi merah karena malu. Lalu dia pingsan.
          Sena berhasil menutupi kelemahannya yang pingsan setiap melihat kamera. Tapi sepertinya sekarang dia memiliki kelemahan yang baru. Hehehe...

SELESAI